"Saya tidak ingin program ini dipahami sekadar sebagai kelas mengenai cara melakukan penawaran umum perdana atau IPO. Go Public Academy for SMEs harus menjadi jalur pembinaan yang membantu perusahaan bertransformasi. Dari usaha yang bertumpu pada pemiliknya menjadi organisasi yang semakin profesional. Dari pengelolaan yang informal menuju tata kelola yang transparan, dan dari kebutuhan modal jangka pendek menuju perencanaan pertumbuhan jangka panjang yang lebih matang," katanya.
Dia mengingatkan bahwa keputusan melantai di bursa merupakan pilihan strategis dan bukan sebuah kewajiban instan. Kelulusan akademi ini tidak secara otomatis menjadi jaminan persetujuan IPO, melainkan sebagai tolok ukur kesiapan usaha.
"Dalam rancangan jangka panjangnya, Go Public Academy for SMEs membawa aspirasi mendukung terbentuknya 10.000 perusahaan yang siap IPO pada tahun 2045. Bagi saya pesan terpenting dari arah tersebut bukan sekadar angka melainkan kualitas basis perusahaan sebagai yang fundamental. Kita ingin membangun lebih banyak calon perusahaan nasional yang mampu memenuhi standar transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang semakin tinggi," ujarnya.
(Rahmat Fiansyah)