Perbedaan karakter itu terlihat dalam praktik kerja masing-masing profesi. Pola tersebut ikut menentukan bagaimana rekam keuangan pekerja film terbentuk dan dinilai oleh perbankan. Berikut ini adalah tantangan bankability pada profesi perfilman yang ditemukan oleh Bank Amar:
1. Pendapatan Mengikuti Periode Produksi
Editor dan penulis skenario umumnya menerima pembayaran dalam beberapa termin sepanjang pengerjaan proyek yang berlangsung berbulan-bulan. Pola tersebut membuat arus pendapatan tidak selalu tercatat secara rutin setiap bulan, sehingga penilaian kemampuan finansial perlu melihat rekam pemasukan dalam periode yang lebih panjang.
2. Kebutuhan Produksi dan Pribadi Masih Bercampur
Casting director dan sinematografer kerap menerima dana proyek untuk kebutuhan produksi melalui satu rekening sebelum mendistribusikannya untuk kebutuhan kru ataupun talent. Kondisi ini membuat nilai transaksi yang tercatat dapat lebih besar daripada pendapatan pribadi, sehingga pencatatan penghasilan dan kewajiban pajak menjadi lebih kompleks.
3. Nilai Karya Belum Diakui sebagai Aset Ekonomi
Penulis dan sutradara dapat memiliki karya atau IP dengan nilai komersial di luar pendapatan proyek. Namun, nilai tersebut belum selalu diperhitungkan sebagai aset ekonomi yang dapat memperkuat profil keuangan maupun akses pendanaan.
4. Pencatatan Keuangan Belum Terdokumentasi dengan Baik
Banyak pekerja film masih bekerja sebagai individu, dengan pencatatan transaksi, kontrak, serta tata kelola finansial dan legal yang belum seragam. Padahal, rekam keuangan dan tata kelola usaha yang lebih tertata dapat menjadi dasar bagi perbankan untuk menilai kelayakan serta kebutuhan pembiayaan produktif.