Gelombang dampak tersebut, menurut Theodorus, menjadi semakin besar seiring posisi Badung sebagai salah satu tujuan wisata utama Indonesia.
Klaim ini, di antaranya, sesuai dengan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) yang menyebut bahwa saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada ketersediaan jaringan mobile broadband, untuk mengakses internet dengan pentrasi di angka 97,16 persen.
Sementara, pada saat yang sama, penetrasi fixed broadband masih tetap tertahan di level 20 hingga 21 persen, yang notabene merupakan salah satu yang cukup rendah di kawasan ASEAN. .
"Dan ini bukan sekadar kekhawatiran, pada 2023 lalu sudah ada 48 menara di Badung yang dibongkar, dan itu terbukti langsung berdampak pada kualitas layanan telekomunikasi yang mengalami degradasi," ujar Direktur Eksekutif Aspimtel, Tagor H Sihombing, dalam kesempatan yang sama.
Dengan kondisi demikian, Aspimtel menilai risiko tersebut perlu menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan, lantaran jika konektivitas sampai benar-benar terganggu terganggu, maka masyarakat, pelaku usaha, wisatawan, hingga aktivitas ekonomi digital di Badung juga ikut berada dalam risiko.