sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Gen Z Gandrungi Kuliner Asing, Ini Strategi yang Perlu Dilakukan Indonesia

Ecotainment editor Mei Sada
15/10/2026 12:20 WIB
Strategi inilah yang dinilai bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk memperkenalkan kuliner Nusantara kepada generasi muda.
Gen Z Gandrungi Kuliner Asing, Ini Strategi yang Perlu Dilakukan Indonesia. (Foto: Istimewa)
Gen Z Gandrungi Kuliner Asing, Ini Strategi yang Perlu Dilakukan Indonesia. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Popularitas kuliner Korea di kalangan anak muda menjadi salah satu gambaran bagaimana budaya suatu negara bisa menarik perhatian dunia. Bukan hanya melalui rasa, makanan Korea juga diperkenalkan lewat film hingga berbagai produk budaya populer. 

Strategi inilah yang dinilai bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk memperkenalkan kuliner Nusantara kepada generasi muda. Founder sekaligus Chair Indonesia Gastronomy Network, Vita Datau, menilai promosi makanan tradisional Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan cerita atau storytelling. 

Menurutnya, perlu strategi yang lebih luas agar cerita di balik kuliner lokal juga mampu menghasilkan dampak ekonomi. Hal itu ia sampaikan dalam acara Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Culinary Festival 2026 di Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Vita menjelaskan, Indonesia bisa belajar dari Korea Selatan yang menghubungkan industri kreatif dengan promosi kuliner dan destinasi wisata. Melalui film, misalnya, penonton tidak hanya mengenal cerita dan karakter, tetapi juga dapat tertarik mencoba makanan hingga mengunjungi tempat-tempat yang ditampilkan.

Menurut Vita, pendekatan seperti itu menunjukkan bahwa promosi kuliner seharusnya menjadi bagian dari strategi yang saling terhubung, bukan sekadar memperkenalkan makanan melalui cerita.

“Kalau kita belajar dari negara luar ya, mereka itu tidak melakukan storytelling, tapi yang dilakukan storynomics. Kenapa? Karena story itu harus menghasilkan ekonomi,” ujar Vita.

Ia mencontohkan Korea yang memanfaatkan film sebagai salah satu bagian dari rangkaian industri kreatif untuk memperkenalkan berbagai hal, termasuk makanan dan destinasi.

“Makanan, destinasi, itu melalui filmnya,” katanya.

Vita menilai, storytelling tetap penting, tetapi belum cukup jika tidak disertai strategi promosi yang dijalankan di berbagai lini. Apalagi, kebiasaan generasi muda dalam mengonsumsi konten kini banyak dipengaruhi media sosial, termasuk TikTok.

Karena itu, tantangannya bukan sekadar membuat konten tentang makanan tradisional, melainkan bagaimana menyajikannya dengan cara yang mampu membangkitkan rasa penasaran anak muda hingga membuat mereka ingin mencoba.

“Anak zaman sekarang misalnya semuanya main apa? TikTok, ya. Nah, gimana caranya untuk membuat mereka menjadi pengin coba?” ucapnya.

Selain strategi promosi, menurut Vita, besarnya biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang bersaing di industri kuliner juga berperan penting. Menurutnya, promosi kuliner dari luar negeri memiliki dukungan pemasaran yang sangat kuat sehingga mampu menjangkau lebih banyak konsumen.

Ia pun menekankan bahwa upaya memperkenalkan kuliner Indonesia perlu didukung strategi pemasaran yang memadai agar bisa bersaing di tengah derasnya tren makanan dari luar negeri.

“Biaya marketing yang dilakukan oleh orang-orang luar yang pesaing-pesaing kita di kuliner ini luar biasa,” ujar Vita.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa upaya memperkuat posisi kuliner Nusantara tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau pelaku industri. Gerakan untuk mencintai kuliner sendiri harus dimulai dari rumah. 

“Nation movement starts from home. Jadi ini tanggung jawab ibu-ibu, termasuk saya, memperkenalkan makanan itu dari rumah,” tuturnya.

“Sehingga, mau dia digoyang kayak apa, dia akan bilang, ‘Makanan ibu saya paling enak,’” lanjutnya.

Selain itu, Vita menilai bahwa memperkenalkan kuliner Nusantara kepada generasi muda membutuhkan kerja bersama. Promosi melalui media dan industri kreatif perlu berjalan beriringan dengan kebiasaan di rumah agar makanan tradisional tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga tetap diminati dan dikonsumsi.

Sebagai informasi, rangkaian Wonderful Indonesia Gastronomy Culinary Festival 2026 berlangsung pada 7 Oktober hingga 1 November 2026 di 32 pusat perbelanjaan di berbagai kota di Indonesia.

Mengusung tema “From Local Roots to Global Recognition”, kuliner Nusantara diperkenalkan bukan hanya sebagai hidangan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas, tradisi, dan potensi ekonomi Indonesia.


(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement