sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

RI Gandeng China Kembangkan Teknologi Bangun Rusun di Kawasan Padat Penduduk

Economics editor Rohman Wibowo
14/09/2026 13:17 WIB
Fokus penjajakan kemitraan ini diarahkan pada pemanfaatan inovasi konstruksi hunian vertikal di kawasan padat penduduk yang aman dan terjangkau.
RI Gandeng China Kembangkan Teknologi Bangun Rusun di Kawasan Padat Penduduk. Foto: iNews Media Group.
RI Gandeng China Kembangkan Teknologi Bangun Rusun di Kawasan Padat Penduduk. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menggelar pertemuan dengan Duta Besar China untuk Indonesia, Wang Lutong, guna membahas peluang kerja sama pengembangan teknologi rumah susun.

Fokus penjajakan kemitraan ini diarahkan pada pemanfaatan inovasi konstruksi hunian vertikal di kawasan padat penduduk yang aman dan terjangkau.

Maruarar menyatakan kerja sama bilateral dengan China dibangun berlandaskan prinsip saling percaya, kesetaraan manfaat, serta memberikan dampak positif bagi kedua negara.

“Ini kita tindak lanjuti pertemuan sekitar dua bulan lalu. Kita membicarakan kerja sama di bidang perumahan dengan prinsip saling percaya, saling menguntungkan dan memberikan dampak positif bagi kedua negara,” ujar Maruarar dalam keterangan resmi, dikutip Senin (14/9/2026).

Fokus utama pembahasan tertuju pada alih teknologi pembangunan rusun di kawasan perkotaan yang padat. Teknologi yang ditawarkan nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik geografis di Indonesia agar proses pembangunan berjalan aman, efisien, serta menghasilkan unit hunian yang ramah di kantong masyarakat.

Maruarar menegaskan sebelum menetapkan jenis teknologi yang akan diadopsi, delegasi teknis China terlebih dahulu akan mengkaji kondisi lahan serta kerangka regulasi yang berlaku di Indonesia. Setelah kajian tersebut tuntas, kedua pihak baru akan memutuskan teknologi konstruksi yang paling tepat sasaran.

“Sesudah pihak China mempelajari lahan dan regulasi, baru kita tentukan teknologi apa yang cocok,” katanya.

Kerja sama ini juga dirancang untuk menggerakkan perekonomian domestik secara lebih luas. Kementerian PKP menginstruksikan agar rantai pasok proyek perumahan tersebut turut memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta memprioritaskan pemakaian material lokal dan tenaga kerja asal Indonesia.

“Kalau ada produk-produk dari Indonesia yang sesuai dengan kualifikasi, akan didahulukan produk Indonesia. Begitu juga dengan tenaga kerja,” ujarnya.

Maruarar berharap hubungan diplomasi yang solid antara Indonesia dan China dapat diwujudkan dalam bentuk kerja sama nyata di sektor papan. Pertukaran teknologi dan pengalaman kedua negara diyakini mampu mempercepat pemenuhan target hunian yang layak, aman, dan terjangkau bagi masyarakat luas.

Untuk mematangkan rencana aksi di lapangan, kedua pihak bersepakat membentuk tim bersama yang bertugas mengkaji seluruh dimensi kemitraan, mencakup penyesuaian regulasi, ketersediaan lahan, spesifikasi teknologi, hingga skema pelaksanaan pembangunan. 

Tim gabungan ini diperkuat oleh sejumlah pejabat Kementerian PKP, antara lain Direktur Jenderal Tata Kelola dan Pengendalian Risiko Roberia, Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Sri Haryati, serta Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho.

Tim bersama tersebut diagendakan segera melakukan koordinasi lanjutan sekaligus meninjau lokasi-lokasi lahan potensial yang siap dikembangkan. Laporan hasil survei dan rekomendasi kerja tim akan diserahkan langsung kepada Menteri PKP dan Duta Besar RRT pada akhir September 2026.

Sementara itu, Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong menyampaikan komitmen negaranya untuk terus memperkuat sinergi dengan Indonesia di sektor permukiman. Komitmen tersebut akan diwujudkan melalui kemitraan pertukaran pengalaman manajerial serta transfer teknologi dalam tata kelola dan pembangunan perumahan.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement