Maruarar menegaskan sebelum menetapkan jenis teknologi yang akan diadopsi, delegasi teknis China terlebih dahulu akan mengkaji kondisi lahan serta kerangka regulasi yang berlaku di Indonesia. Setelah kajian tersebut tuntas, kedua pihak baru akan memutuskan teknologi konstruksi yang paling tepat sasaran.
“Sesudah pihak China mempelajari lahan dan regulasi, baru kita tentukan teknologi apa yang cocok,” katanya.
Kerja sama ini juga dirancang untuk menggerakkan perekonomian domestik secara lebih luas. Kementerian PKP menginstruksikan agar rantai pasok proyek perumahan tersebut turut memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta memprioritaskan pemakaian material lokal dan tenaga kerja asal Indonesia.
“Kalau ada produk-produk dari Indonesia yang sesuai dengan kualifikasi, akan didahulukan produk Indonesia. Begitu juga dengan tenaga kerja,” ujarnya.
Maruarar berharap hubungan diplomasi yang solid antara Indonesia dan China dapat diwujudkan dalam bentuk kerja sama nyata di sektor papan. Pertukaran teknologi dan pengalaman kedua negara diyakini mampu mempercepat pemenuhan target hunian yang layak, aman, dan terjangkau bagi masyarakat luas.