Menurut Airlangga, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan penetrasi produk furnitur di pasar global melalui peningkatan kualitas dan desain, penerapan prinsip keberlanjutan, promosi dagang, serta perluasan jaringan dengan pembeli internasional.
Kinerja perdagangan furnitur Indonesia juga mencatatkan surplus secara konsisten sejak 2021. Pada 2025, nilai ekspor mebel mencapai USD2.390,68 juta, sedangkan impor tercatat USD1.917,37 juta. Dengan demikian, neraca perdagangan furnitur mencatat surplus USD473,31 juta.
Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai eksportir furnitur terbesar ke-25 dunia pada 2025 dengan pangsa pasar 0,77 persen. Amerika Serikat menjadi pasar utama yang menyerap sekitar 60 persen ekspor furnitur Indonesia.
Airlangga mengatakan, pengembangan desain furnitur nasional perlu terus dilakukan untuk menyesuaikan dengan perubahan preferensi konsumen global. Permintaan pasar internasional saat ini semakin mengarah pada produk yang mengutamakan fungsi, fleksibilitas kustomisasi, serta penggunaan material ramah lingkungan.
Indonesia memiliki keunggulan bahan baku berupa kayu dan rotan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pada 2024, produksi kayu bulat nasional mencapai 57,46 juta meter kubik. Sekitar 20 persen produksi tersebut dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan kayu domestik. Indonesia juga menguasai lebih dari 80 persen pasokan rotan dunia.