Sementara itu, nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan akibat dinamika geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Rupiah tercatat di level Rp17.635 per dolar AS pada akhir periode, sedangkan secara year-to-date (ytd) berada di level Rp17.415 per dolar AS.
Pemerintah memperkirakan nilai tukar rupiah sepanjang 2026 berada pada kisaran Rp17.000 sampai Rp17.500 per dolar AS.
Pergerakan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun juga masih dipengaruhi kondisi global. Yield SBN tercatat sebesar 7,17 persen pada akhir periode dan 6,80 persen secara year-to-date. Adapun outlook 2026 berada pada kisaran 6,7 persen hingga 7,1 persen.
Dari sisi fiskal, APBN tetap berperan sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah volatilitas harga energi global. Hingga 31 Agustus 2026, realisasi subsidi dan kompensasi mencapai Rp331,4 triliun atau 74,2 persen dari pagu APBN.
Penyaluran tersebut antara lain tercermin dari peningkatan konsumsi sejumlah barang bersubsidi. Salah satunya terlihat dari volume konsumsi BBM yang tumbuh 8,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.