IDXChannel - Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan batu bara akan meningkat signifikan tahun ini, di tengah hambatan perdagangan minyak dan gas akibat penutupan Selat Hormuz.
Dilansir dari Oilprice pada Senin (21/9/2026), beberapa negara terpaksa kembali menggunakan batu bara untuk mengatasi hambatan tersebut.
Dalam laporan pertengahan tahunnya yang dirilis baru-baru ini, IEA memprediksi bahwa penggunaan batu bara akan meningkat sebesar 1,2 persen pada 2026, sehingga konsumsi dunia mencapai rekor 8,94 miliar metrik ton.
Permintaan batu bara oleh dua negara konsumen terbesar di dunia, China dan India, diperkirakan meningkat masing-masing sebesar 1,0 persen dan 4,2 persen, menjadi 5,0 miliar ton dan 1,35 miliar ton.
Pengurangan besar-besaran pengiriman gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz menyebabkan beberapa negara menghadapi kekurangan energi, sehingga mereka harus beralih ke sumber energi lain.
Jepang, India, Bangladesh, Filipina, Korea Selatan, Thailand, Taiwan, China, dan beberapa negara Eropa terpaksa meningkatkan penggunaan batu bara mereka untuk mengisi kesenjangan tersebut.
Selain itu, beberapa negara tidak hanya beralih ke batu bara untuk pembangkit listrik. Konsumsi batu bara China untuk produksi produk kimia juga meningkat dalam beberapa bulan terakhir karena harga minyak yang tinggi.
Konsumsi batu bara mungkin akan meningkat lebih lanjut di beberapa wilayah dunia dalam beberapa bulan mendatang jika pola cuaca El Niño yang sangat kuat terjadi seperti yang diprediksi. Suhu yang lebih tinggi dari normal dan kekeringan dapat mendorong peningkatan permintaan energi di seluruh Asia seperti India dan Vietnam.
Prospek untuk 2027 masih buran mengingat ketidakpastian perdagangan di Selat Hormuz. Jika aliran LNG pulih tahun depan, hal itu dapat menurunkan harga dan memicu pergeseran kembali ke gas alam dari batu bara. Namun, permintaan global kemungkinan akan terus meningkat jika perdagangan migas tetap terbatas. (Wahyu Dwi Anggoro)