Dari total layanan irigasi 20.458 hektare, sebanyak 12.678 hektare merupakan daerah irigasi fungsional dan 7.780 hektare lainnya merupakan daerah irigasi potensial.
Kementerian PU memperkirakan keberadaan Bendungan Pelosika dapat meningkatkan indeks pertanaman dari 220 persen menjadi 300 persen. Dengan demikian, lahan yang sebelumnya dapat ditanami dua kali dalam setahun berpotensi ditingkatkan menjadi tiga kali.
Selain mendukung sektor pertanian, Bendungan Pelosika juga dirancang untuk memenuhi kebutuhan air baku masyarakat Konawe. Bendungan ini akan memasok air baku sebesar 750 liter per detik yang dapat diolah melalui instalasi pengolahan air dan disalurkan melalui jaringan perpipaan.
Kapasitas tersebut diproyeksikan dapat memenuhi kebutuhan air bersih sekitar 540.000 jiwa. Bendungan Pelosika juga memiliki fungsi pengendalian banjir yang ditargetkaampn mengurangi luas wilayah yang berisiko terdampak banjir dari 19.330 hektare menjadi 6.301 hektare di Kabupaten Konawe.
Wilayah tersebut mencakup 10 kecamatan, yakni Asinua, Abuki, Lambuya, Uepai, Unaaha, Konawe, Anggaberi, Wawotobi, Wonggeduku, dan Pondidaha.
Dari sisi energi, bendungan tersebut juga disiapkan untuk mendukung pengembangan pembangkit listrik. Pelosika dirancang mendukung Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 40 MW serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 261,12 MW.
Secara konstruksi, Bendungan Pelosika menggunakan tipe urugan inti clay dengan tinggi 63 meter. Bendungan memiliki elevasi puncak 121 meter, panjang puncak total 404,26 meter, dan lebar puncak 15 meter.
Untuk mendukung aspek keamanan, desain bendungan dilengkapi pelimpah utama tipe ogee dan pelimpah darurat tipe broad-crest.
Kementerian PU memproyeksikan Bendungan Pelosika menjadi bendungan terbesar di Sultra dan salah satu bendungan dengan kapasitas tampung terbesar di Indonesia.
(Nur Ichsan Yuniarto)