“Jadi kita sama-sama jaga, kita berikan jaminan ketercukupan gula rafinasi sebagai bahan baku industri. Tetapi sebaliknya, kita juga meminta dengan sangat dan akan kita awasi dengan ketat supaya gula rafinasi tidak bocor ke konsumen sebagai gula konsumsi,” katanya.
Selain itu, Sarmuji juga menyinggung persoalan pasokan yang sebelumnya dikeluhkan salah satu pabrik karena kekurangan gula rafinasi sekitar 15 ribu ton. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu keberlangsungan produksi apabila tidak segera ditangani. Melalui koordinasi dengan AGRI, ketersediaan pasokan bagi pabrik tersebut telah membaik dan mencapai sekitar 90 persen dari kebutuhannya.
“Dan meskipun ada kekhawatiran tadi, tahun depan gimana? Apakah datang lebih cepat apa tidak? Kalau tahun depan tidak datang lebih cepat bisa bahaya, karena momentum-momentum hari besar tadi itu. Tapi setelah koordinasi alhamdulillah bisa kita atasi,” tutur Sarmuji.
Dia menambahkan, pemerintah terus mengupayakan penyelesaian neraca komoditas agar pemesanan gula rafinasi untuk kebutuhan awal 2027 dapat dilakukan lebih cepat. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kebutuhan bahan baku pada awal tahun, sekaligus memastikan industri memiliki kepastian pasokan dalam menjalankan kegiatan produksinya.
Ketua Umum AGRI Supriadi menyampaikan, kebutuhan gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman serta farmasi menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan rencana impor. Pada 2026, alokasi gula rafinasi berada di kisaran tiga juta ton dan diperkirakan mencukupi kebutuhan hingga akhir Desember, meskipun ketersediaan pada Januari perlu diantisipasi.