Faiz menjelaskan, perubahan ekspektasi inflasi tersebut tercermin dari kenaikan imbal hasil US Treasury yang meningkat dari sekitar 4,2 persen pada 2025 menjadi 5 persen pada 2026.
Memasuki 2027, Faiz memperkirakan perekonomian dunia akan menunjukkan perbedaan laju pertumbuhan antara satu kawasan dan kawasan lainnya. Divergensi tersebut dipengaruhi oleh karakteristik ekonomi, tingkat ketergantungan terhadap energi, serta kondisi inflasi di masing-masing negara.
Amerika Serikat dan Eropa, misalnya, lebih rentan terhadap perubahan harga energi karena harga energi di kedua kawasan tersebut mengikuti mekanisme pasar. Sementara itu, sejumlah negara Asia, seperti China yang secara ekonomi relatif lemah membuat kebijakan moneternya cenderung lebih akomodatif.
"Perbedaan kondisi tersebut perlu dicermati karena dinamika ekonomi negara-negara besar akan memengaruhi prospek perekonomian negara lain, termasuk Indonesia," tutur Faiz.
Dari sisi inflasi, Amerika Serikat masih menjadi salah satu acuan penting dalam membaca arah perekonomian global. Faiz menyoroti inflasi konsumen AS yang meningkat menjadi 3,7 persen secara tahunan (yoy) pada September 2026, dari 3,4 persen pada bulan sebelumnya.