Dihubungi secara terpisah, Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini menilai konflik sentimen yang tengah terbangun antara Indonesia dan Singapura seharusnya menjadi titik koreksi bagi pemerintah.
Ia menilai defisit neraca dagang yang terjadi antara Indonesia dan Singapura disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah untuk menghadirkan fasilitas produksi sendiri di dalam negeri. Akhirnya banyak perusahaan yang hanya sekedar melakukan ekspor ke luar dan ujungnya tidak ada penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
"Selama ini Singapura lebih banyak memanfaatkan sumber daya alam kita, dan dia mengelolanya mendapatkan nilai tambah yang tinggi dan lebih dari Indonesia. Itu karena dia menggunakan teknologi," kata Didik.
(Febrina Ratna Iskana)