Sementara itu, nilai impor Indonesia dari negara tersebut tercatat sebesar USD19,06 miliar. Jumlah ini termasuk BBM, perangkat optik, barang dari plastik, produk olahan kimia, barang olahan dari besi dan baja, hingga mesin dan peralatan listrik.
Dengan demikian, Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan Singapura sekitar USD5,62 miliar sepanjang tahun lalu.
"Dengan segala posisi geografi, sumber daya alam, jadi harus saling ketergantungan dan win-win, yang menurut saya sekarang ini masih win-lose, Indonesia banyak dirugikan," kata Didin.
Menurutnya, Indonesia selama ini lebih banyak berada pada posisi sebagai pemasok bahan baku, sementara Singapura memiliki posisi strategis dalam pengolahan, perdagangan, dan distribusi produk bernilai tambah. Kondisi tersebut membuat Indonesia belum memiliki posisi tawar yang kuat dalam menentukan harga komoditas yang diperdagangkan.
"Indonesia ekspor bahan baku, tetapi kita besar mengimpor barang jadi, misalnya BBM. Tetapi kemudian dalam penentuan harga tidak dianggap apa-apa. Dalam migas juga market diatur di sana, kita kan bukan penentu harga," kata dia.