sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Hashim Sebut Rupiah Berisiko Tembus Rp21.000, Gubernur BI Buka Suara

Economics editor Rohman Wibowo
29/10/2026 20:11 WIB
BI merespons kekhawatiran anjloknya nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp21.000 per dolar AS akibat sentimen negatif pemodal global.
Hashim Sebut Rupiah Berisiko Tembus Rp21.000, Gubernur BI Buka Suara. (Foto: iNews Media Group)
Hashim Sebut Rupiah Berisiko Tembus Rp21.000, Gubernur BI Buka Suara. (Foto: iNews Media Group)

Potensi keterpurukan rupiah tersebut awalnya mencuat seiring adanya indikasi transaksi tidak sehat pada sejumlah emiten di bursa efek tanah air yang mengundang sentimen negatif dari investor internasional.

Penilaian kritis dari penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap rekayasa harga atau saham "gorengan" dinilai berisiko memicu gelombang pelarian modal asing.

"Ini yang disorot dan diperhatikan dan dipersoalkan oleh MSCI dan pelaku-pelaku asing, kalau free float-nya terbatas, P/E ratio-nya itu gila-gilaan, tidak masuk akal. Karena kalau investasi luar negeri keluar dari bursa saham kita, rupiah bisa semakin lemah, saya sudah hitung bisa jadi Rp20.000–Rp21.000, ada yang bilang Rp22.000, pinjaman luar negeri harus kita bayar lebih mahal dan bisa jadi malapetaka bagi ekonomi Indonesia," kata Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi sekaligus Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Hashim Djojohadikusumo dalam Rapimnas Kadin, Kamis. 

Hashim mengungkapkan, skenario ancaman kurs tersebut telah ia diskusikan langsung bersama Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani. Di hadapan anggota Kadin, termasuk Chairman Lippo Group James Riady, Hashim mengingatkan bahwa praktik menggoreng saham yang merusak kredibilitas bursa harus segera disudahi agar tidak berdampak fatal terhadap stabilitas moneter.

Menanggapi risiko keluarnya dana asing akibat sentimen tersebut, bank sentral menggarisbawahi bahwa pergerakan valuta asing kerap kali dipicu oleh faktor eksternal di luar kendali otoritas dalam negeri. Kendati demikian, BI menegaskan komitmen penuh untuk memprioritaskan stabilitas moneter demi memastikan ketahanan sektor riil tetap terjaga.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement