Proyek ini ditargetkan menghasilkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun dan berpotensi menghemat devisa hingga Rp7,1 triliun per tahun dari penurunan impor BBM yang sebelumnya dilakukan.
"Jadi untuk batu bara, kan kita sudah mulai kegiatan investasi batu bara menjadi metanol yang di Kutai Timur. Ini saya yang melakukan groundbreaking untuk kegiatan itu," katanya.
Nantinya, ujar Yuliot, batu bara tersebut akan diubah menjadi metanol. Metanol yang dihasilkan akan memasok kebutuhan industri, terutama petrokimia dan formaldehida, serta mendukung pengembangan FAME dan program B50.
"Jadi metanol itu kan bisa digunakan sebagai pencampuran bahan bakar minyak," ujar dia.