IDXChannel - Hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura kembali menghangat menyusul kebijakan pemerintah Indonesia memangkas volume ekspor gas alam ke Singapura sebesar 31 BBTUD demi mencukupi kebutuhan domestik.
Pengetatan pasokan energi ini mencuat di tengah polemik kabut asap lintas batas yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan mengingatkan pengambil kebijakan agar menimbang dinamika ekonomi kedua negara secara komprehensif. Pasalnya, stabilitas pasokan energi dinilai tidak dapat dipisahkan dari keterkaitan perdagangan serta aliran investasi yang telah terjalin kuat selama ini.
“Indonesia tentu harus mengutamakan kepentingan nasional, termasuk memastikan kebutuhan energi dalam negeri terpenuhi. Namun, kita juga perlu mempertimbangkan besarnya keterkaitan ekonomi dengan Singapura. Ketegangan yang berkepanjangan justru berisiko merugikan kedua negara,” kata Herry, Senin (2/11/2026).
Berdasarkan kajian NEXT Indonesia Center bertajuk “Indonesia-Singapura: Memanas, tapi Saling Butuh”, derajat ketergantungan Indonesia terhadap Singapura tercatat lebih besar.
Sepanjang 2025, arus barang asal Singapura menyumbang 7,93 persen dari total impor Indonesia, sedangkan komoditas dari Indonesia hanya mengisi 3,82 persen dari keseluruhan impor Singapura.