Ia berharap transformasi yang saat ini tengah dijalankan untuk Perhutani ke depan bisa mengonversi model bisnis Perum. Sehingga Perhutani bisa membukukan pendapatan positif untuk menjalankan operasionalnya, sambil fokus menjaga kelestarian hutan.
"Maka transformasi dari Perhutani yang paling nyata itu dari switch revenue -nya dari sebelumnya menebang hutan, nanti mulai dikombinasi dengan carbon trading. Titik tertentu kalau carbon trading sudah luas, mungkin Perhutani mendapatkan revenue dari carbon trading dan menggantikan pendapatan dari penebangan hutan," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Operasi Perum Perhutani Wawan Triwibowo menambahkan, saat ini Perhutani memiliki 3,6 juta hektare izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH). Terdiri dari 2,4 juta hektare berada di Pulau Jawa, dan 1,21 juta hektare lahan terletak di luar pulau Jawa.
Dari pemanfaatan hutan seluas itu, sumber pendapatan dari Perum Perhutani untuk hutan-hutan di pulau Jawa terdiri dari 41 persen dari segmen bisnis kayu dan industri kayu, 47 persen dari getah dan industri GTD, 6 persen dari Agroforestri, 5 persen wisata, dan 1 persen MKP.
Sementara dari hutan-hutan yang berada di luar pulau Jawa, seperti Kalimantan dan Sulawesi Selatan, sumber pendapatan Perum sebesar 92 persen dari kayu dan industri kayu, 5 persen HHBK dan Jasa Wisata, 3 persen Tanaman Industri. Adapun hutan yang ada di Lampung dan Bangka Belitung, pendapatan bersumber dari getah pinus sebesar 82 persen, Jasa dan Rehabilitasi 4 persen, dan Agroforestry sebanyak 14 persen. (Febrina Ratna Iskana)