Di sisi lain, Suahasil menilai indikator makroekonomi dan tingkat konsumsi masyarakat Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang baik (resilient). Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung peran APBN dalam menjaga momentum kegiatan ekonomi.
Untuk memastikan anggaran terserap secara tepat sasaran hingga akhir tahun, Kementerian Keuangan terus melakukan penelaahan dan efisiensi belanja secara berkala. Namun, Suahasil menegaskan bahwa efisiensi bukan berarti menghentikan belanja pemerintah.
“Namun, kalau kita mengatakan efisiensi anggaran, itu bukan berarti bahwa menyetop anggaran karena untuk Q4 ini APBN akan belanja Rp1.300 triliun lebih tinggi dibandingkan Q4 tahun 2025, yaitu Rp1.200 triliun,” jelas Suahasil.
Belanja pemerintah pada kuartal IV-2026 tersebut akan menopang penyelenggaraan layanan publik, memperkuat konsumsi masyarakat, serta mendukung penyaluran bantuan sosial dan bantuan pangan bagi kelompok rentan. Bantuan pangan untuk periode kuartal IV juga mulai disalurkan.
“Jadi belanja APBN akan terus lebih tinggi dibandingkan Q4 tahun lalu dan ini akan mendorong kegiatan ekonomi di masyarakat, termasuk layanan publik pemerintah dan juga perlindungan sosial, bantuan pangan sudah mulai bergulir untuk Q4 dan ini akan mendorong kegiatan konsumsi dan pendorong apa namanya kegiatan government expenditure di di perekonomian kita,” tambahnya.