Ulubelu Binary Unit 1, 2, 3 (30 MW) : 2027
Hululais Unit 1 & 2 (110 MW) : 2028
Lahendong Low Pressure (15 MW) : 2028
Lahendong Binary Unit 1 (15 MW) : 2028
Lumut Balai Binary Unit 1 (10 MW) : 2028
Sibayak Binary Unit (5 MW) : 2028
Hululais Binary Unit 1 (30 MW) : 2028
Sungai Penuh Low Pressure (10 MW) : 2029
Lumut Balai Binary Unit 2 (10 MW) : 2029
Ulubelu Low Pressure 10 (MW) : 2029
Ulubelu Extension (Gunung Tiga) (55 MW) : 2029
Lumut Balai Low Pressure Unit 1 & 2 (20 MW) : 2031
Dari portofolio tersebut, PGE mengakselerasi lima proyek dengan total kapasitas 105 MW yang semula dijadwalkan beroperasi setelah 2028. Adapun proyek PLTP Hululais Unit 1 & 2 tengah memasuki tahap finalisasi Perjanjian Pemegang Saham (Shareholders Agreement/SHA) dan Perjanjian Jual Beli Listrik (Power Purchase Agreement/PPA).
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi menjelaskan, percepatan proyek dilakukan melalui optimalisasi tahapan pengembangan, termasuk pelaksanaan kegiatan teknis secara paralel serta penyelesaian aspek komersial dan pembiayaan.
“Strategi akselerasi kami berfokus pada percepatan tahapan kritis proyek, mulai dari penyelesaian studi teknis, pengeboran dan pengujian sumur, hingga persiapan konstruksi. Di saat yang sama, kami juga mendorong kepastian PPA dan kesiapan pembiayaan agar tambahan kapasitas pembangkit dapat direalisasikan sesuai target,” ujar Edwil.
Selain proyek-proyek menuju 1 GW, PGE terus memperkuat portofolio pengembangan panas bumi dengan total potensi hingga 3 GW, termasuk sejumlah proyek yang telah memperoleh Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (Power Purchase Agreement/PPA) atau Perjanjian Jual Beli Uap (Steam Sales Contract/SSC). Salah satunya adalah PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW), yang ditargetkan mulai beroperasi komersial pada 2030. Proyek-proyek ini menjadi bagian strategi pertumbuhan bisnis PGE melalui optimalisasi aset brownfield dan pengembangan proyek greenfield.