Rencana pembukaan hingga 200 juta rekening juga dinilai tidak rasional jika disandingkan dengan komposisi demografi riil penduduk berusia 17 tahun ke atas. Di sisi lain, skema penyertaan saldo awal pada program tersebut dipandang lebih banyak memberi keuntungan sepihak bagi industri perbankan ketimbang masyarakat penerima.
"Saldo Rp50 ribu itu tidak bisa ditarik atau dimanfaatkan nasabah karena berstatus saldo minimal yang akhirnya mengendap cuma-cuma dan memperbesar likuiditas perbankan. Target 200 juta rekening pun tidak masuk akal karena tingkat kepemilikan rekening sudah tinggi dan jumlah penduduk dewasa kita tidak sebanyak itu," kata Nailul.
Dia menilai skema saldo mengendap tersebut pada praktiknya hanya menjadi mekanisme penyerahan dana secara cuma-cuma kepada pihak perbankan yang menghimpun jutaan nasabah baru tanpa memberi dampak ekonomi riil bagi pemegang rekening.
(Dhera Arizona)