Tekanan harga tersebut mendorong aksi redemption luas di berbagai produk, termasuk pada platform Makmur.
Meski demikian, melandainya yield SBN tenor 10 tahun ke kisaran 7,1 persen pada Agustus 2026 dipandang mulai menstabilkan situasi dan membuka peluang masuknya kembali minat investasi untuk mengunci imbal hasil (lock-in yield).
Arah kebijakan moneter Bank Indonesia yang telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2026 turut memengaruhi pergeseran preferensi nasabah.
“Di Makmur thankfully sempat mengalami penurunan juga di Q2, Q3 balik lagi. Jadi banyak investor yang kayaknya reallocation saja," ungkap Stefanus.
Meski demikian, Stefanus menggarisbawahi bahwa pergeseran dana investor belum mengalir secara agresif ke reksa dana saham. Banyak pemodal masih menahan posisi akibat kerugian yang belum terealisasi (floating loss) dari porsi saham yang dihimpun pada awal tahun.