Secara kumulatif sejak awal tahun, total net redemption industri menembus Rp30,17 triliun.
Sementara itu, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana terkapitalisasi sebesar Rp637,07 triliun, atau terkoreksi 2,42 persen (mtm) dan terdepresiasi 5,66 persen (YtD).
Stefanus menjelaskan, tekanan struktural industri reksa dana tidak lepas dari porsi dominasi produk reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap.
Melonjaknya imbal hasil (yield) obligasi secara tajam menyadarkan investor akan risiko fluktuasi harga pada reksa dana pendapatan tetap, sekalipun portofolionya berbasis instrumen fixed income.
“Ketika mulai Maret, April, Mei, Juni, terutama puncaknya di Juni itu kan obligasi pemerintah (SBN) 10 years-nya spike tinggi banget. Dari yang awal tahun sekitar 6,1 persen ke 7,4 persen di Juni. Efeknya pasti reflect juga di reksa dana pendapatan tetap," jelasnya.