"Tiap investasi AI itu pasti menghasilkan satu hal, yaitu data. Datanya makin banyak, sistemnya makin banyak, dan semuanya itu harus terhubung satu sama lain baru AI-nya bisa lebih maksimal dan lebih efisien. Tapi semakin kompleksnya sistem, berarti semakin tinggi juga celah risikonya," jelas Clara.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Clara menyebut terdapat tiga kebutuhan utama perusahaan Indonesia dalam membangun infrastruktur data. Pertama, infrastruktur data yang mampu menyesuaikan dengan peningkatan beban kerja, terutama seiring bertambahnya volume data dan kebutuhan pemrosesan AI.
Kedua, sistem infrastruktur yang aman dan mudah dikelola guna menjaga keberlangsungan bisnis serta memastikan keamanan data perusahaan. Ketiga, fleksibilitas dalam penerapan infrastruktur data, mengingat penyimpanan dan pengelolaan data perusahaan kini tersebar di berbagai lokasi, baik melalui sistem on-premise, layanan cloud, kantor cabang, maupun kantor pusat.
"Makin kompleks infrastrukturnya, makin penting juga untuk bisnis menjaga keamanannya agar tetap terpantau," kata Clara. (Febrina Ratna Iskana)