Adanya kesenjangan biaya operasional antara model menjadi faktor penentu akses pelaku terhadap kemampuan serangan AI. Meskipun mampu menembus akses awal, performa model AI mengalami penurunan ketika pengujian berlanjut ke tahapan serangan yang lebih kompleks.
Selain itu, tidak ada model yang mencapai tingkat keberhasilan tinggi dalam menghindari sistem Endpoint Detection and Response (EDR) selama pengujian. Temuan ini menunjukkan bahwa mekanisme deteksi dan respons keamanan tetap berpotensi membatasi perluasan serangan setelah akses awal diperoleh.
Selain menguji kemampuan AI, laporan Ensign juga menyoroti bagaimana aktivitas ransomware di ASEAN meningkat dua kali lipat pada 2025. Laporan tersebut juga mencatat bahwa pencurian data semakin berperan sebagai tujuan serangan.
Sementara itu, aktivitas hacktivisme mencapai 19,1 persen dan menyasar infrastruktur penting, termasuk sektor utilitas, energi, transportasi, dan telekomunikasi.
Adanya perkembangan ancaman terhadap sekuritas jaringan siber membuat Ensign mendorong setiap organisasi atau perusahaan untuk memperkuat fondasi keamanan siber melalui pemindaian aset yang dapat diakses dari internet, penerapan patch secara berkala, serta pengujian pertahanan terhadap model AI terbaru.