IDXChannel—Survei GenAI Workforce yang dilakukan Deloitte menunjukkan bahwa satu dari enam karyawan di Inggris rela membayar langganan platform artificial intelligence (AI) untuk meringankan pekerjaan.
Jika ditotal, nilai biaya berlangganan yang dibayarkan oleh seluruh partisipan survei mencapai 1 miliar poundsterling, atau setara dengan Rp23,76 triliun per tahun. Biaya berlangganan ini pun dikeluarkan dari kantong pribadi.
Melansir CNA (17/9/2026), survei yang diikuti oleh 25.000 karyawan berbasis di Inggris itu juga menunjukkan bahwa dua pertiga pekerja partisipan pernah mencoba perangkat AI seperti ChatGPT, Claude, Google Gemini, hingga Microsoft Copilot.
Hampir seperempat partisipan juga aktif menggunakan perangkat AI dalam pekerjaannya sehari-hari. Para pekerja di Inggris lebih cepat mengadopsi AI dalam pekerjaan harian dibanding kecepatan perusahaan menyediakan perangkat ini untuk para karyawan.
Selain itu, survei itu juga menunjukkan bahwa 31 persen partisipan diketahui memakai bantuan AI tanpa sepengetahuan perusahaan dan 17 persen partisipan membayar langganan setidaknya satu platform GenAI (generative AI) untuk mereka sendiri.
“Para karyawan di Inggris menunjukkan bahwa mereka tidak mau menunggu izin dari perusahaan mereka untuk memakai GenAI,” kata Deloitte Chief AI Officer Inggris Hayley McKelvey.
McKelvey juga mengatakan bahwa banyak karyawan di Inggris sudah menggunakan perangkat AI gratisan maupun platform AI berbayar untuk versi premium untuk membantu mempercepat pekerjaannya.
Adapun jenis tugas yang paling umum dan sering didelegasikan ke platform AI adalah pencarian informasi, penulisan email, dan penyusunan ringkasan. Meskipun tugas-tugas ini terlihat ringan, penggunaan AI rupanya mampu memangkas waktu 70 menit per minggu.
Deloitte Partner Paul Lee mengatakan bahwa generative AI menjadi bagian dari keseharian karyawan dengan sangat cepat. Namun, bagi banyak pekerja, fungsi AI yang digunakan relatif sangat umum, alih-alih untuk tugas-tugas yang lebih kompleks.
“Perusahaan yang paling diuntungkan oleh keberadaan AI adalah perusahaan yang mau bertindak lebih dari sekadar menyediakan akses ke perangkat AI, serta fokus membantu karyawan untuk memanfaatkannya dengan tujuan dan pengamanan yang tepat,” tutur Lee.
(Nadya Kurnia)