AI juga dapat menandai kondisi ketika program studi peserta tidak sesuai dengan persyaratan lowongan yang dibuka oleh perusahaan.
"Dalam seleksi peserta, AI juga membantu kita melihat pola-pola yang tidak lazim, misalnya peserta pada suatu perusahaan terkonsentrasi dari alumni kampus tertentu, sebagian besar berasal dari luar wilayah perusahaan, atau program studinya tidak sesuai dengan lowongan yang tersedia," katanya.
Menurut Cris, pemanfaatan AI menjadi salah satu instrumen untuk membantu Kemnaker mengolah kumpulan informasi MagangHub yang melibatkan banyak mitra, lowongan, dan peserta.
Meski demikian, dia menegaskan bahwa hasil analisis AI tidak menjadi keputusan akhir dalam proses verifikasi maupun seleksi. Temuan dari teknologi tersebut selanjutnya menjadi bahan untuk pemeriksaan lebih lanjut sesuai mekanisme yang berlaku.
"AI membantu kita menemukan pola, tetapi proses pemeriksaan tetap dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku," ujar Cris.
(NIA DEVIYANA)