Menjawab kekhawatiran dampak lingkungan tersebut, Prof. Agustino menegaskan solusinya bukan dengan berhenti memanfaatkan teknologi.
Penyedia infrastruktur disarankan menerapkan sistem pendingin siklus tertutup (closed-loop cooling), memanfaatkan air daur ulang, serta bijak memilih lokasi pembangunan pusat data agar tidak berebut sumber air bersih dengan permukiman warga.
"Terus bagaimana solusinya? Bukan berhenti memakai AI. Buat metode siklus pendinginan tertutup, air daur ulang, dan bangun data center di lokasi yang daya dukung airnya memadai. Jangan di lingkungan penduduk, terjadi persaingan konsumsi air," terang Prof. Zulys.
Dari sisi pengguna (user), efisiensi juga bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari dengan menyusun perintah (prompt) secara cermat dan tidak bergantung secara berlebihan pada AI untuk tugas-tugas sederhana.
"Sebagai user, kita bisa membantu meningkatkan efisiensi pemakaian air pendingin dengan cara mengurangi query pada prompt yang tidak perlu. Gunakan AI sesuai dengan beban kerjanya, jangan semua pekerjaan kita minta bantuan AI. Kalau bisa, kita kerjakan sendiri aja. Toh kita masih bisa hidup tanpa AI, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa air," pungkas dia.
(Nadya Kurnia)