Meski begitu, ia menjelaskan kebutuhan gizi siswa sekolah dasar kelas satu tentu berbeda dengan siswa kelas empat. Oleh sebab itu, penerapan sistem prasmanan perlu mempertimbangkan kemampuan anak dalam memperoleh makanan.
Selain itu, penerapan sistem prasmanan dalam program MBG juga memerlukan edukasi dan dukungan pemahaman dari orang tua siswa. Dia mengatakan jika sekolah belum siap menerapkan sistem tersebut, pelayanan MBG tetap dapat dilaksanakan melalui mekanisme penyajian seperti biasanya.
“Setiap sekolah memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, kami ingin memastikan sekolah yang menerapkan prasmanan benar-benar siap. Standarnya harus sama, mulai dari kesiapan pelaksana hingga peralatan yang digunakan, agar pelaksanaannya tidak menimbulkan persoalan baru,” ujarnya.
Lebih jauh, sistem penyajian prasmanan telah di uji coba di berbagai wilayah, baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa, termasuk Aceh, Palembang, dan Merauke. (Febrina Ratna Iskana)