Menurut Maruli, kebutuhan jembatan juga terlihat saat bencana melanda sejumlah daerah dan membuat akses masyarakat terputus.
Maruli mencontohkan pengalamannya ketika mengerahkan personel untuk membantu penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Saat itu, sejumlah wilayah terisolasi sehingga pengiriman logistik kepada warga terkendala.
“Orang banyak jalan kaki karena masih hujan sehingga tidak bisa dilewati sungainya, berputar-putar untuk membawa logistik pada membantu masyarakat,” ujarnya.
Maruli mengatakan, kondisi tersebut mendorong TNI AD memprioritaskan pembangunan jembatan agar akses masyarakat dapat kembali terbuka. Dia menyebut pembangunan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi wilayah.
Dia juga menjelaskan, TNI AD mengerjakan pembangunan jembatan dengan skema swakelola. Menurut dia, cara tersebut memungkinkan biaya pembangunan lebih rendah dibandingkan perhitungan dalam rencana anggaran biaya (RAB).