Eisenkot juga mengandalkan rekam jejak militernya selama 41 tahun di Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Dia menjabat sebagai kepala staf militer pada 2015–2019 dan dikenal melalui doktrin Dahiyeh, yakni strategi membalas serangan kelompok bersenjata dengan kekuatan besar yang juga dapat menghancurkan infrastruktur sipil di wilayah yang mereka gunakan. Strategi tersebut diterapkan saat perang Israel melawan Hizbullah di Lebanon pada 2006 dan menuai kritik terkait hukum humaniter.
Latar belakang keluarganya turut menjadi bagian dari profil politik Eisenkot. Putra imigran Maroko tersebut berpotensi menjadi PM pertama Israel dari komunitas Mizrahi, yakni kelompok Yahudi yang memiliki akar keluarga di Timur Tengah dan Afrika Utara. Putra dan dua keponakannya tewas saat bertempur di Gaza sejak perang pecah pada 2023.
Eisenkot sempat bergabung dengan kabinet perang Netanyahu sebagai pengamat (observer) setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Namun, dia keluar sekitar 8 bulan kemudian karena mengkritik kepemimpinan Netanyahu yang dinilainya gagal mencapai target perang, termasuk menghancurkan Hamas.
"Kami menargetkan bisa mencapai tujuan ini dalam waktu satu tahun. Tapi lebih dari tiga tahun telah berlalu, dan hal itu belum terjadi," ujar Eisenkot dalam wawancara dengan Channel 7.
Dia juga menegaskan bahwa pemerintahan Israel berikutnya harus mencegah Iran memperoleh kemampuan nuklir militer, baik melalui kekuatan militer maupun kesepakatan diplomatik yang didukung Amerika Serikat.