IDXChannel - Fenomena iklim El Nino yang saat ini sedang berlangsung merupakan yang terkuat yang pernah tercatat.
Menurut para ilmuwan yang memantau suhu Samudra Pasifik, suhu permukaan laut harian di wilayah kunci Pasifik tengah-timur 3,05°C di atas rata-rata pada 19 September.
Dilansir dari BBC pada Rabu (23/9/2026), angka tersebut melampaui rekor sebelumnya sebesar 3,02°C yang dicatat selama El Nino yang sangat kuat pada 2015.
Beberapa pengukuran jangka panjang belum mencatat rekor tertinggi baru. Namun, hal itu kemungkinan akan berubah karena puncak El Nino diperkirakan baru terjadi akhir tahun ini.
El Nino adalah fenomena cuaca alamiah, yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun dan cenderung berlangsung sekitar satu tahun.
Para peramal cuaca melacak perkembangan El Nino dengan mengamati suhu di wilayah kunci Samudra Pasifik. Ketika suhu tersebut secara konsisten 0,5°C di atas normal, El Nino dinyatakan terjadi.
Ada berbagai cara untuk mengukur kekuatan El Nino. Rekor el nino terkuat yang baru-baru ini dipecahkan berkaitan dengan pengukuran suhu permukaan laut harian dibandingkan dengan rata-rata historis jangka panjang. Ini disebut Oceanic Nino Index (ONI).
"Para ilmuwan masih menilai apakah dampaknya akan sebanding dengan besarnya, tetapi kita sudah melihat efeknya di berbagai belahan dunia," kata Kepala Prediksi Jangka Panjang Badan Meteorologi Inggris Profesor Adam Scaife.
El Nino meningkatkan kemungkinan terjadinya badai dan banjir di beberapa wilayah, serta kekeringan dan kebakaran hutan di wilayah lain.
Masa El Nino cenderung membawa curah hujan monsun di bawah rata-rata di India, yang sudah tercermin dalam data tahun ini.
Statistik dari Departemen Meteorologi India menunjukkan bahwa, hingga 22 September, monsun barat daya membawa curah hujan 15 persen lebih sedikit dari biasanya.
Dampak khas lain dari El Nino adalah berkurangnya aktivitas badai di kawasan Atlantik karena perubahan pola angin di lapisan atmosfer atas. Sejauh ini pada 2026 belum ada badai di kawasan Atlantik.
Efek lain yang mungkin terjadi - beberapa di antaranya sudah dirasakan - termasuk peningkatan risiko banjir di wilayah pesisir Ekuador, Peru, dan Amerika Serikat bagian selatan, serta peningkatan ancaman kekeringan dan kebakaran hutan di Brasil, Australia, dan Indonesia.
Dampak cuaca ini dapat memiliki efek domino yang signifikan terhadap hasil panen, ketahanan pangan, dan perekonomian di seluruh dunia. (Wahyu Dwi Anggoro)