IDXChannel — Skydance menghadapi tantangan keuangan besar setelah melakukan penggabungan dengan Warner Bros. Discovery (WBD). Perusahaan hasil merger tersebut diperkirakan menanggung utang bersih sekitar USD80 miliar atau setara Rp1.433 triliun.
Besarnya beban utang menjadi sorotan investor dan lembaga pemeringkat kredit, terutama terkait kemampuan Skydance dalam mengelola kewajiban serta menjaga kondisi keuangannya setelah merger.
Peralihan penonton dari jaringan televisi ke layanan streaming menjadi salah satu tantangan terhadap arus kas Skydance. Perubahan pola konsumsi media tersebut membuat perusahaan perlu mengalokasikan kas untuk mengurangi beban utang. Di sisi lain, Skydance tetap membutuhkan investasi untuk konten, layanan streaming, teknologi, serta integrasi bisnis Paramount dengan Warner Bros. Discovery.
Dukungan dari keluarga Ellison menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan penyangga bagi perusahaan. Larry Ellison memiliki komitmen finansial yang berpotensi membantu Skydance menghadapi tekanan keuangan dan memenuhi target leverage yang telah ditetapkan.
Keberhasilan strategi tersebut pada akhirnya akan sangat bergantung pada kemampuan Skydance menghasilkan arus kas yang kuat, mengendalikan biaya integrasi, serta meningkatkan kinerja bisnis streaming.
Dilansir dari Variety pada 5 Oktober 2026, tingginya utang membuat Skydance harus menjalankan strategi pengurangan utang secara agresif dalam beberapa tahun mendatang. Perusahaan diperkirakan masih memiliki tingkat leverage yang tinggi pada 2026 hingga 2027 sebelum mulai membaik pada tahun-tahun berikutnya.
S&P Global Ratings memperkirakan rasio utang terhadap EBITDA Skydance masih berada di sekitar tujuh kali pada 2026–2027. Rasio tersebut ditargetkan turun menjadi tiga kali atau lebih rendah pada 2029.
Target tersebut dinilai cukup menantang karena Skydance harus mengurangi beban utang sekaligus mempertahankan investasi untuk mengembangkan bisnis. Perusahaan perlu menjaga keseimbangan antara penggunaan kas untuk pembayaran utang dan kebutuhan pendanaan operasional serta ekspansi.
Variety juga melaporkan bahwa Moody’s memberikan peringkat kredit Ba3 kepada Skydance, yang berada di bawah kategori investment grade. Sementara itu, S&P dan CreditSights memberikan penilaian yang relatif lebih optimistis, meski tetap menyoroti tingginya leverage serta kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas bebas untuk memenuhi kewajibannya.
Beberapa tahun ke depan akan menjadi periode penting bagi CEO David Ellison untuk membuktikan bahwa merger tersebut tidak hanya mampu menghasilkan pertumbuhan bisnis, tetapi juga memperbaiki kondisi keuangan perusahaan.
(Birru Aisyah)