Selain persoalan media sosial, Imran juga meluruskan stigma masyarakat yang kerap mengaitkan gangguan kesehatan mental atau depresi dengan tingkat religiusitas seseorang, seperti anggapan 'kurang bersyukur'.
Menurutnya, depresi merupakan bentuk gangguan kejiwaan medis yang terjadi secara bertahap dan membutuhkan penanganan terukur, bukan sekadar respons atas kurangnya rasa syukur.
“Jadi, depresi sendiri itu kan memang ada gangguan, gangguan dari seseorang, dari kejiwaan seseorang yang tidak langsung depresi gitu. Jadi dia tuh akan memasuki tahap-tahap yang lain, misalnya dia kesulitan untuk menerima apakah ini suatu kenyataan atau ini suatu realitas,” tegas dia.
Imran menambahkan bahwa kapasitas tiap individu dalam merespons tekanan mental atau stresor sangat berbeda-beda. Karena itu, pendampingan medis menjadi langkah krusial ketika seseorang telah menunjukkan gejala depresi.
“Kemudian juga yang sering terjadi adalah bagaimana mereka tuh menerima stres. Nah, kadarnya orang menerima stresor itu juga tidak sama, sehingga ya oke, bersyukur memang penting, tetapi kalau sudah pada taraf yang dia memang butuh pengobatan, ya dia harus diobati. Kalau enggak, dia akan terus turun dan terus kondisinya tambah jelek,” ungkap Imran.