IDXChannel - PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) membukukan pendapatan sebesar Rp2,9 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut meningkat 31,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY) sebesar Rp2,21 triliun.
Pertumbuhan pendapatan terjadi pada seluruh segmen usaha. Freight forwarding menjadi kontributor utama dengan pendapatan Rp1,62 triliun, tumbuh 42,7 persen secara tahunan. Sementara itu, transportasi darat (land transportation) meningkat 20,1 persen menjadi Rp1,08 triliun dan pergudangan (warehousing & storage) tumbuh 15,4 persen menjadi Rp204,2 miliar.
Meski pendapatan meningkat, profitabilitas WBSA menghadapi tekanan. Perseroan mencatatkan laba bruto sebesar Rp236,85 miliar, turun 13,2 persen dibandingkan Rp272,83 miliar pada sembilan bulan pertama 2025. Hal ini terjadi seiring kenaikan beban pokok penjualan sebesar 37,6 persen menjadi Rp2,66 triliun dari Rp1,94 triliun.
Kondisi tersebut membuat margin laba bruto menyusut menjadi 8,17 persen dari 12,36 persen. Di sisi lain, perseroan berhasil menekan beban usaha sebesar 8,4 persen menjadi Rp169,9 miliar dari Rp185,5 miliar. EBITDA tercatat sebesar Rp155,1 miliar, turun tipis 2,8 persen dibandingkan Rp159,54 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, laba usaha turun 23,7 persen menjadi Rp64,05 miliar dari Rp83,93 miliar. Setelah memperhitungkan pendapatan dan beban keuangan serta pajak, WBSA membukukan laba bersih sebesar Rp13,48 miliar, merosot 55,4 persen dibandingkan Rp30,22 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.
Dalam keterangan resmi dikutip Senin (2/11/2026), WBSA menjelaskan, tekanan margin terutama dipengaruhi penurunan aktivitas sektor pertambangan menyusul penyesuaian alokasi produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
"Kondisi tersebut mengurangi ketersediaan volume angkutan sekaligus meningkatkan persaingan pada layanan logistik komoditas. WBSA mempertahankan harga kompetitif untuk menjaga hubungan jangka panjang dengan pelanggan dan kontinuitas volume angkutan," kata manajemen WBSA.
Di tengah tantangan tersebut, WBSA memperkuat jaringan logistik multimoda melalui akuisisi PT Bermuda Inovasi Logistik (BIL) pada 2026. WBSA mengalokasikan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar Rp215 miliar untuk mengambil alih 99,99 persen saham BIL. Melalui transaksi itu, WBSA memperoleh pengendalian atas PT Beruang Maritim Indonesia (BMI), perusahaan yang bergerak di bidang pengangkutan laut.
BMI melayani berbagai jenis kargo, mulai dari curah kering, curah cair, alat berat, kontainer, hingga kargo umum. Kapabilitas tersebut didukung jaringan lebih dari 300 kapal dan lebih dari 100 pemilik kargo di berbagai wilayah Indonesia. Integrasi ini diharapkan memperkuat konektivitas layanan transportasi darat, freight forwarding, pergudangan, terminal logistik, aktivitas pelabuhan, dan pengiriman laut.
Ke depan, WBSA akan meningkatkan penetrasi pelanggan, penjualan silang (cross-selling) antarsegmen, serta optimalisasi jaringan multimoda. Perseroan juga menyiapkan penambahan kapasitas pengangkutan laut melalui lima set tugboat dan tongkang (barge) yang diperkirakan mampu menambah kapasitas angkut hingga 1,5 juta ton per tahun.
Pengembangan bisnis tersebut tetap mengandalkan model aset hibrida (hybrid asset model), yakni kombinasi aset strategis milik perseroan dan kapasitas mitra. Pendekatan ini memungkinkan WBSA menyesuaikan kapasitas berdasarkan kebutuhan pelanggan, karakteristik rute, dan tingkat permintaan, sekaligus meningkatkan utilisasi jaringan.
Melalui integrasi multimoda, penambahan kapasitas, dan optimalisasi jaringan, WBSA melihat peluang untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan serta profitabilitas secara bertahap. Perseroan juga akan terus menjaga disiplin biaya dan kualitas bauran layanan untuk mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.
(Rahmat Fiansyah)