Dalam keterangan resmi dikutip Senin (2/11/2026), WBSA menjelaskan, tekanan margin terutama dipengaruhi penurunan aktivitas sektor pertambangan menyusul penyesuaian alokasi produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
"Kondisi tersebut mengurangi ketersediaan volume angkutan sekaligus meningkatkan persaingan pada layanan logistik komoditas. WBSA mempertahankan harga kompetitif untuk menjaga hubungan jangka panjang dengan pelanggan dan kontinuitas volume angkutan," kata manajemen WBSA.
Di tengah tantangan tersebut, WBSA memperkuat jaringan logistik multimoda melalui akuisisi PT Bermuda Inovasi Logistik (BIL) pada 2026. WBSA mengalokasikan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar Rp215 miliar untuk mengambil alih 99,99 persen saham BIL. Melalui transaksi itu, WBSA memperoleh pengendalian atas PT Beruang Maritim Indonesia (BMI), perusahaan yang bergerak di bidang pengangkutan laut.
BMI melayani berbagai jenis kargo, mulai dari curah kering, curah cair, alat berat, kontainer, hingga kargo umum. Kapabilitas tersebut didukung jaringan lebih dari 300 kapal dan lebih dari 100 pemilik kargo di berbagai wilayah Indonesia. Integrasi ini diharapkan memperkuat konektivitas layanan transportasi darat, freight forwarding, pergudangan, terminal logistik, aktivitas pelabuhan, dan pengiriman laut.
Ke depan, WBSA akan meningkatkan penetrasi pelanggan, penjualan silang (cross-selling) antarsegmen, serta optimalisasi jaringan multimoda. Perseroan juga menyiapkan penambahan kapasitas pengangkutan laut melalui lima set tugboat dan tongkang (barge) yang diperkirakan mampu menambah kapasitas angkut hingga 1,5 juta ton per tahun.