sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Tertekan Jelang Data PCE, Harga Minyak Tembus USD105

Market news editor Desi Angriani
28/09/2026 21:54 WIB
Wall Street melemah seiring kenaikan harga minyak dan keputusan mengejutkan OpenAI menghentikan sementara pengembangan kecerdasan buatan (AI)
Wall Street Tertekan Jelang Data PCE, Harga Minyak Tembus USD105 (Foto: iNews Media Group)
Wall Street Tertekan Jelang Data PCE, Harga Minyak Tembus USD105 (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Wall Street dibuka melemah pada perdagangan Senin (28/9/2026) waktu setempat seiring kenaikan harga minyak dan keputusan mengejutkan OpenAI menghentikan sementara pengembangan kecerdasan buatan (AI) generasi terbaru. 

Melansir Investing, indeks S&P 500 turun 0,5 persen ke level 7.707,28. Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi juga melemah 0,5 persen ke 26.929,30, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,4 persen menjadi 51.648,48.

Tekanan terutama terlihat pada saham teknologi setelah OpenAI mengonfirmasi penghentian sementara proses pelatihan dan evaluasi model AI generasi berikutnya.

Keputusan tersebut diambil setelah muncul laporan mengenai perilaku tidak terduga dari agen AI otonom dalam sejumlah pengujian di situs web pemerintah federal AS. Perkembangan itu kemudian memicu peninjauan internal terkait aspek keamanan.

Penghentian pengembangan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai prospek belanja perangkat keras dan infrastruktur AI dalam jangka pendek. 

Saham perusahaan semikonduktor dan penyedia peralatan server turut tertekan di perdagangan Asia karena investor kembali mengevaluasi proyeksi permintaan terhadap klaster komputasi berperforma tinggi dan akselerator AI.

Langkah OpenAI tersebut juga muncul setelah rivalnya, Anthropic, menyerukan penguatan pengamanan dalam pengembangan AI. 

Kondisi itu menambah kekhawatiran bahwa pengawasan regulator dan persoalan keamanan dapat memperlambat ekspansi belanja modal yang selama ini menopang kinerja saham teknologi.

Tekanan terhadap saham teknologi juga datang dari kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 5,18 persen, sedangkan tenor 30 tahun mencapai sekitar 5,47 persen.

Kenaikan yield ini meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan investor dalam valuasi saham terutama menjadi tekanan bagi saham teknologi yang memiliki valuasi tinggi.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent melonjak 2,5 persen hingga menembus USD105 per barel setelah Presiden AS Donald Trump menolak, proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan permusuhan.

Trump mengatakan, konflik pada akhirnya dapat diselesaikan, yang membuka kemungkinan dilakukannya serangan militer terbatas sebelum pemilihan paruh waktu (midterm election) pada November.

Sementara itu, Teheran kembali menegaskan tidak akan melonggarkan persyaratannya terkait pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut. Sikap ini meredupkan harapan tercapainya terobosan diplomatik dalam waktu dekat.

Risiko geopolitik tersebut membuat premi risiko di pasar minyak tetap tinggi. Harga minyak di atas USD100 per barel juga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi yang bersumber dari kenaikan biaya energi.

Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang Federal Reserve (The Fed) untuk melonggarkan kebijakan moneter. Pelaku pasar obligasi bahkan kembali memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed Oktober mendatang.

Selain perkembangan geopolitik dan pasar minyak, investor juga bersiap menghadapi agenda ekonomi AS yang padat sepanjang pekan ini.

Salah satu data yang menjadi perhatian utama adalah indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk Agustus, yang merupakan indikator inflasi pilihan The Fed. Data tersebut akan menjadi petunjuk mengenai perkembangan tekanan harga di tengah kenaikan harga energi.

Investor juga akan mencermati sejumlah data pasar tenaga kerja AS yang dijadwalkan dirilis pada pekan ini. Jika data ketenagakerjaan menunjukkan kondisi yang kuat sementara inflasi tetap tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Oktober dapat semakin menguat.

Kombinasi suku bunga yang lebih tinggi, kenaikan harga minyak, serta ketidakpastian prospek belanja AI menjadi tantangan bagi valuasi saham AS menjelang musim laporan keuangan kuartal III-2026.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement