Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent melonjak 2,5 persen hingga menembus USD105 per barel setelah Presiden AS Donald Trump menolak, proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan permusuhan.
Trump mengatakan, konflik pada akhirnya dapat diselesaikan, yang membuka kemungkinan dilakukannya serangan militer terbatas sebelum pemilihan paruh waktu (midterm election) pada November.
Sementara itu, Teheran kembali menegaskan tidak akan melonggarkan persyaratannya terkait pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut. Sikap ini meredupkan harapan tercapainya terobosan diplomatik dalam waktu dekat.
Risiko geopolitik tersebut membuat premi risiko di pasar minyak tetap tinggi. Harga minyak di atas USD100 per barel juga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi yang bersumber dari kenaikan biaya energi.
Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang Federal Reserve (The Fed) untuk melonggarkan kebijakan moneter. Pelaku pasar obligasi bahkan kembali memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed Oktober mendatang.