IDXChannel - Investor memasuki pekan ini dalam kondisi pasar saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street yang masih rapuh setelah mengalami guncangan. Aksi jual besar-besaran pada saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) memicu kekhawatiran menjelang rilis data inflasi dan laporan kinerja sejumlah perusahaan teknologi.
Melansir Reuters, Senin (9/11/2026), saham-saham anjlok pada Kamis akibat kekhawatiran kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu AS akan memperlambat pembangunan pusat data AI. Hal ini semakin memperbesar kecemasan terhadap sektor yang menjadi salah satu pendorong utama reli pasar saham tahun ini.
Indeks Nasdaq Composite (.IXIC) yang didominasi saham teknologi ditutup pada Kamis hampir 12 persen di bawah rekor tertingginya pada 6 Oktober, melampaui ambang batas 10 persen yang menandai terjadinya koreksi pasar (correction).
Penurunan tersebut, bersama dengan kerugian besar pada indeks saham utama lainnya, membalikkan penguatan pada sesi sebelumnya yang terjadi sesaat setelah hasil pemilu paruh waktu Selasa. Dalam pemilu tersebut, Partai Demokrat mengalahkan Partai Republik pimpinan Presiden Donald Trump secara telak dan berhasil menguasai Kongres AS.
Saham-saham teknologi memimpin pemulihan terbatas pada Jumat, tetapi indeks-indeks utama tetap membukukan kerugian sepanjang pekan.
Di tengah meningkatnya volatilitas, pasar akan menghadapi sejumlah ujian pada pekan ini. Pada Selasa, pemerintah AS akan merilis laporan indeks harga konsumen (CPI) bulanan, yang menjadi salah satu indikator inflasi yang paling diperhatikan. Sejumlah perusahaan teknologi, yakni CoreWeave (CRWV.O), Applied Materials (AMAT.O), dan Cisco Systems (CSCO.O), juga dijadwalkan merilis laporan kinerja keuangan.
“Ini merupakan perdagangan yang momentumnya rapuh,” kata ahli strategi makro global senior di State Street, Marvin Loh.
Laporan CPI Oktober dirilis ketika investor memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada Desember untuk mengendalikan inflasi. Bank sentral AS tersebut mempertahankan suku bunga pada bulan lalu setelah menaikkannya pada September untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Ketika pasar mengalami penurunan tajam pada Kamis, para trader sedikit mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga. Namun, setelah laporan ketenagakerjaan yang kuat dirilis pada Jumat, kontrak berjangka suku bunga The Fed (Fed funds futures) mengindikasikan peluang sekitar 80 persen bank sentral akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan pada 8-9 Desember, berdasarkan data LSEG.
Investor juga akan mencermati laporan CPI untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed hingga 2027. Secara keseluruhan, pasar memperkirakan masih akan ada sekitar dua kali kenaikan suku bunga standar sebesar 25 basis poin dalam siklus pengetatan kali ini.
(NIA DEVIYANA)