IDXChannel - Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Selasa (27/10/2026) waktu setempat seiring rangkaian laporan keuangan perusahaan teknologi besar serta keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pekan ini.
Melansir Investing, indeks S&P 500 naik 0,3 persen ke level 7.701,21. Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,2 persen menjadi 52.446,46, sedangkan indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi naik 0,5 persen ke posisi 26.291,57.
Sentimen pasar ditopang optimisme terhadap saham teknologi yang sebelumnya tertekan, menyusul pengajuan dokumen penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) oleh perusahaan kecerdasan buatan (AI), Anthropic.
Dokumen IPO Anthropic menyoroti ambisi perusahaan dalam mengembangkan teknologi AI serta pertumbuhan pendapatan yang pesat. Namun, prospektus tersebut juga mengungkap besarnya biaya dan risiko keuangan dalam pengembangan model AI canggih.
Anthropic mencatat pendapatan USD16,3 miliar pada semester I-2026. Pada periode yang sama, perusahaan membukukan rugi bersih USD80,7 miliar akibat penyesuaian akuntansi non-tunai terkait perubahan nilai instrumen keuangan yang dapat dikonversi menjadi saham. Adapun rugi operasionalnya tercatat USD693 juta.
Anthropic berencana melantai di bursa dengan kode saham ANT. Sejumlah laporan memperkirakan valuasi perusahaan tersebut berada di kisaran USD1,5 triliun, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang mencapai USD2 triliun.
Rencana IPO itu muncul ketika investor semakin mempertanyakan kemampuan perusahaan-perusahaan AI menghasilkan imbal hasil yang sepadan dengan belanja modal dan pembiayaan yang terus meningkat. Keraguan tersebut turut menekan valuasi saham teknologi dan AI selama sekitar dua pekan terakhir.
Investor Nantikan Laporan Keuangan Big Tech
Pelaku pasar kini menantikan laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi berkapitalisasi besar untuk memperoleh gambaran lebih jelas mengenai prospek bisnis AI.
Alphabet, induk Google, dan Microsoft dijadwalkan melaporkan kinerja kuartal III-2026 pada Rabu (28/10/2026). Selanjutnya, Amazon akan merilis laporan keuangan pada Kamis (29/10/2026).
Produsen chip memori Seagate Technology juga dijadwalkan mengumumkan kinerja keuangan setelah penutupan perdagangan Selasa.
Selain saham teknologi, investor mencermati pergerakan saham sejumlah perusahaan besar lainnya. Saham Boeing melemah dalam perdagangan prapembukaan setelah produsen pesawat tersebut melaporkan kerugian kuartalan yang lebih besar dari perkiraan, antara lain akibat stagnasi pengiriman pesawat. Meski demikian, arus kas bebas Boeing melampaui ekspektasi pasar.
Saham Coca-Cola juga bergerak sedikit melemah sebelum pembukaan pasar. Perusahaan minuman tersebut mencatat pertumbuhan pendapatan yang kuat, didukung waktu penjualan konsentrat yang menguntungkan, meskipun penjualan di Amerika Utara masih lesu.
Sebaliknya, saham United Parcel Service (UPS) menguat dalam perdagangan prapembukaan setelah perusahaan logistik tersebut membukukan laba kuartal III dan penjualan yang melampaui ekspektasi.
Investor juga mencermati Meta Platforms setelah Nvidia mengumumkan investasi USD3 miliar dalam penawaran saham perusahaan induk Instagram tersebut sebagai bagian dari perluasan kemitraan AI.
Selain laporan keuangan emiten, keputusan kebijakan moneter The Fed menjadi perhatian utama pasar pekan ini.
Bank sentral AS memulai pertemuan kebijakan selama dua hari pada Selasa. Pasar secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya setelah menaikkan suku bunga pada September, kenaikan pertama sejak 2023.
Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh akan dicermati untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya. Bulan lalu, Warsh memperingatkan bahwa inflasi yang bertahan tinggi dapat memperkuat alasan untuk kembali menaikkan suku bunga.
Di luar keputusan The Fed, investor juga menantikan data produk domestik bruto (PDB) kuartal III AS dan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE) September yang dijadwalkan rilis pada Kamis.
Indeks PCE merupakan salah satu indikator inflasi utama yang digunakan The Fed dalam menentukan kebijakan moneternya.
(DESI ANGRIANI)