sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rupiah Pagi Menguat Tipis ke Rp17.982 per USD Jelang Pengumuman Suku Bunga BI

Market news editor Nia Deviyana
21/10/2026 10:02 WIB
Melansir Bloomberg, mata uang Garuda berada pada level Rp17.982 per USD, naik 10 poin atau 0,06 persen.
Rupiah Pagi Menguat Tipis ke Rp17.982 per USD Jelang Pengumuman Suku Bunga BI. Foto: iNews Media Group.
Rupiah Pagi Menguat Tipis ke Rp17.982 per USD Jelang Pengumuman Suku Bunga BI. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah menguat tipis pada perdagangan awal Rabu (21/10/2026). Melansir Bloomberg, mata uang Garuda berada pada level Rp17.982 per USD, naik 10 poin atau 0,06 persen.

Sementara itu, dolar Amerika Serikat (AS) masih berada di bawah tekanan setelah melemah ke level terendah dalam tiga pekan pada sesi sebelumnya. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) dan harga minyak mentah mengurangi daya tarik dolar.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, bergerak stabil di level 101,78 setelah turun 0,2 persen pada Selasa.

Rupiah menguat menjelang konferensi pers Rapat Dewan Guburnur Bank Indonesia (BI) pada hari ini. BI diperkirakan mempertahankan suku bunga pada Rabu, menurut mayoritas tipis ekonom yang disurvei Reuters. Para ekonom menilai sentimen MSCI hanya akan berdampak kecil terhadap keputusan kebijakan moneter.

Rupiah, yang telah melemah sekitar 8 persen sepanjang tahun ini, turun hampir 1 persen usai MSCI mengejutkan pasar domestik pada Jumat. MSCI menyatakan tengah mempertimbangkan untuk mengubah status Indonesia menjadi standalone dari kategori emerging markets yang telah disandang sejak 1989.

Namun, tingkat inflasi secara umum masih terkendali. Inflasi utama tercatat sebesar 3,28 persen pada September, masih dalam kisaran target BI sebesar 1,5–3,5 persen. Sementara itu, inflasi inti melambat menjadi 2,84 persen, yang dapat memberikan keyakinan kepada para pembuat kebijakan untuk mempertahankan suku bunga untuk sementara waktu.

Sebanyak 15 dari 29 ekonom yang disurvei pada 13–19 Oktober, memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate (BI Rate) di level 5,75 persen pada Rabu. Mereka juga memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga fasilitas simpanan (deposit facility) dan fasilitas pinjaman (lending facility) masing-masing di level 4,75 persen dan 6,50 persen.

"Terlepas dari peristiwa ini yang mengejutkan semua pihak, fundamental ekonomi masih belum menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga diperlukan, terutama setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin pada awal tahun ini,” kata Kepala Ekonom Asia Berkembang di Pantheon Macroeconomics yang berbasis di Inggris, Miguel Chanco, dilansir Reuters.

Sejumlah ekonom berpendapat BI dapat terus mengandalkan instrumen non-suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah. Langkah-langkah tersebut mencakup menurunkan biaya lindung nilai (hedging) valuta asing melalui bank sentral, mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS, serta memanfaatkan cadangan devisa sebesar USD146,3 miliar alih-alih menaikkan suku bunga.

Namun, pada survei yang berbeda sebelumnya, mayoritas cukup besar ekonom, yakni 15 dari 22 responden, memperkirakan suku bunga acuan akan naik dari 5,75 persen menjadi 6 persen atau lebih sebelum akhir tahun.

Pandangan tersebut telah muncul bahkan sebelum dampak negatif dari pengumuman MSCI, mencerminkan kekhawatiran bahwa kenaikan harga minyak dapat mendorong inflasi, sementara sikap hawkish Federal Reserve AS akan terus menekan rupiah.

Tidak ada konsensus yang jelas di antara para ekonom mengenai arah suku bunga setelah tahun ini. Proyeksi median menunjukkan suku bunga kebijakan akan bertahan di level 6 persen sepanjang 2027.

"Pada akhirnya, salah satu prioritas utama mereka adalah stabilitas rupiah," kata Ekonom Senior ASEAN di OCBC Bank, Lavanya Venkateswaran.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement