Selain itu, sebelumnya Kementerian Keuangan optimistis defisit APBN 2026 akan tetap di bawah batas 3 persen terhadap PDB meski terdapat risiko kenaikan imbal hasil atau yield SBN hingga harga minyak dunia. Otoritas fiskal setidaknya memproyeksikan level defisit tetap berada sesuai outlook pertengahan tahun, yakni 2,85 persen terhadap PDB.
"Deviasi kedua asumsi dasar ekonomi makro ini dapat berefek pada pergeseran postur APBN, baik pendapatan, belanja serta defisit. Untuk tingkat imbal hasil SBN, salah satu hal yang diwaspadai adalah efek sentimen negatif penilaian terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI)," kata Ibrahim.
Apabila merujuk pada outlook APBN pertengahan 2026, pemerintah memproyeksikan defisit fiskal melebar dari target Rp689,1 triliun (2,68 persen PDB) ke Rp734,3 triliun (2,85 persen PDB). Proyeksi defisit ini turut dirancang dengan peningkatan imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun dari target APBN 6,9 persen ke kisaran sampai 7,1 persen.
Kemenkeu optimistis defisit APBN masih akan sesuai dengan outlook 2,85 persen karena sejumlah asumsi makro juga masih dalam sasaran. Contohnya, pertumbuhan ekonomi masih pada kisaran 5,4 persen sampai 5,6 persen serta inflasi 2,5±1 persen sebagaimana juga yang ditargetkan Bank Indonesia (BI).
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.020-Rp18.070 per USD.
(NIA DEVIYANA)