sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Proyeksi Harga Emas Dunia Pekan Ini, Pasar Tunggu Data Ekonomi AS

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
28/09/2026 06:39 WIB
Harga emas dunia berpeluang rebound pada perdagangan pekan ini setelah sebelumnya tertekan oleh kenaikan imbal hasil US Treasury.
Proyeksi Harga Emas Dunia Pekan Ini, Pasar Tunggu Data Ekonomi AS. (Foto: Magnific)
Proyeksi Harga Emas Dunia Pekan Ini, Pasar Tunggu Data Ekonomi AS. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga emas dunia berpeluang rebound pada perdagangan pekan ini setelah sebelumnya tertekan oleh kenaikan imbal hasil US Treasury, sinyal hawkish Federal Reserve (The Fed), serta kekhawatiran inflasi yang masih tinggi.

Harga emas spot tercatat naik 0,26 persen menjadi USD4.284,97 per troy ons pada Jumat (25/9/2026). Namun, secara mingguan harga emas masih turun sekitar 2,13 persen.

Analis pasar utama Bybit Han Tan mengatakan kenaikan imbal hasil US Treasury yang terus berlanjut membuat emas berada di jalur penurunan mingguan keempat dalam lima pekan terakhir.

"Kenaikan imbal hasil Treasury yang tak kunjung mereda membuat emas berada di jalur penurunan mingguan keempat dalam lima pekan terakhir," ujar Tan, seperti dikutip Reuters.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun juga mencatat level tertinggi baru dalam 19 tahun.

Kondisi tersebut meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Tan mengatakan emas masih menghadapi sejumlah tekanan, mulai dari risiko inflasi yang persisten, lonjakan imbal hasil Treasury, hingga sikap hawkish The Fed.

Kekhawatiran inflasi turut bertahan seiring kenaikan harga energi sejak pecahnya perang AS-Israel dengan Iran.

Kondisi tersebut mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat untuk menjaga tekanan harga tetap terkendali.

The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan lalu, yang menjadi kenaikan pertama dalam tiga tahun.

Bank sentral AS juga memberi sinyal masih terbuka terhadap kenaikan suku bunga berikutnya.

Namun, prospek emas pada pekan ini masih terbuka. Survei mingguan Kitco News menunjukkan pelaku pasar belum memiliki konsensus yang kuat mengenai arah harga emas dalam jangka pendek.

Dari 14 analis Wall Street yang mengikuti survei, sebanyak lima analis atau 36 persen memperkirakan harga emas naik pada pekan ini.

Sebanyak empat analis atau 29 persen memproyeksikan harga emas turun, sementara lima analis lainnya atau 36 persen memperkirakan emas bergerak mendatar dengan volatilitas yang cukup tinggi.

Managing director Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, memperkirakan harga emas menguat pada pekan ini. Menurut dia, ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed kemungkinan sudah bergerak cukup jauh ke arah hawkish, sementara data ekonomi AS berikutnya dapat kembali mendukung emas.

"Saya menyukai emas pekan ini karena ekspektasi terhadap The Fed kemungkinan sudah bergerak sejauh atau hampir sejauh yang bisa terjadi, sementara sejumlah data penting AS berikutnya akan memperkuat pandangan tersebut," kata Chandler.

Sementara itu, Presiden sekaligus Chief Operating Officer Asset Strategies International Rich Checkan juga memperkirakan harga emas naik.

Menurut dia, investor mulai mempertimbangkan keterbatasan ruang The Fed untuk terus menaikkan suku bunga di tengah tingginya beban pembayaran utang pemerintah AS.

Di sisi lain, sentimen investor ritel terhadap emas masih cenderung bullish.

Dari 152 responden dalam survei daring Kitco, sebanyak 86 investor atau 57 persen memperkirakan harga emas naik pada pekan ini.

Sebanyak 35 investor atau 23 persen memperkirakan harga turun, sedangkan 31 investor atau 20 persen memperkirakan harga bergerak sideways.

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada rangkaian data ekonomi AS yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dan arah imbal hasil Treasury.

Sejumlah data penting yang akan dirilis pekan ini antara lain keputusan kebijakan moneter Reserve Bank of Australia, data kepercayaan konsumen AS dan lowongan pekerjaan JOLTS pada Selasa.

Pada Rabu, pasar akan mencermati data ADP Nonfarm Payrolls, produk domestik bruto (PDB) AS kuartal II final, serta indeks Personal Consumption Expenditures (PCE).

Selanjutnya pada Kamis, perhatian beralih ke data ISM Manufacturing PMI September dan klaim pengangguran mingguan AS.

Rangkaian data ekonomi tersebut akan ditutup dengan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) September pada Jumat. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement