Tantangan proyek tidak hanya berasal dari biaya pembangunan.
Pengembangan industri alumina Indonesia juga masih menghadapi persoalan kuota produksi, pendanaan, akses bijih, dan eksekusi proyek.
Hingga akhir Mei 2026, baru sekitar sepertiga kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) bauksit 2026 yang telah disetujui.
Selain itu, sekitar 90 persen cadangan bauksit berada di bawah konsesi perkebunan, yang berpotensi memperpanjang waktu untuk memperoleh akses terhadap bijih.
Di sisi hilirisasi, masih terdapat delapan kilang alumina di Indonesia yang belum dikembangkan, dengan kebutuhan pendanaan diperkirakan mencapai sekitar USD1,2 miliar untuk masing-masing proyek.
Dalam asumsi dasar Mirae Asset, proyek kilang tersebut hanya mampu menopang sekitar 31 persen utang dengan tingkat bunga 9 persen.