Sebagai kontraktor pelat merah, sekitar 80 persen perolehan pendapatan Waskita selama tiga tahun terakhir bersumber dari lini jasa pengerjaan konstruksi. Di luar bidang konstruksi, portofolio operasional perseroan merambah ke industri beton pracetak, jalan tol, properti, perhotelan, hingga infrastruktur.
Secara fundamental, kinerja neraca keuangan perseroan masih menghadapi tekanan berat. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026 yang belum diaudit, nilai aset disesuaikan Waskita menyusut menjadi Rp65,57 triliun.
Pada kurun waktu yang sama, total utang disesuaikan perseroan menembus Rp 54,63 triliun. Sementara itu, posisi ekuitas disesuaikan Waskita negatif Rp963,9 miliar.
Waskita menghimpun pendapatan Rp4,75 triliun sepanjang semester I-2026. Kendati demikian, EBITDA masih negatif Rp162,2 miliar. Tekanan tersebut turut menggerus laba bersih, di mana perseroan mencatat rugi bersih Rp1,92 triliun.
(Rahmat Fiansyah)