Sebaliknya, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan kinerja di bawah perkiraan akibat komposisi penjualan (sales mix) yang lebih lemah dan tekanan biaya.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada pemulihan volume pengiriman batu bara PTBA dan ADRO, serta realisasi penjualan dan margin AADI.
Sektor logam mencatat pertumbuhan laba paling tinggi, dengan laba agregat meningkat 244,1 persen yoy pada 3Q26, meskipun pertumbuhan secara kuartalan relatif terbatas, yakni 0,3 persen.
Kenaikan tersebut antara lain ditopang oleh perbaikan kinerja PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan kinerja PT Timah Tbk (TINS) serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang lebih kuat.
Namun, tekanan margin masih membayangi PT Vale Indonesia Tbk (INCO), sementara eksekusi operasional PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) tetap menjadi perhatian.