IDXChannel - Investor saham ternama, Lo Kheng Hong mengungkapkan tiga sektor saham yang dinilai paling menarik untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. Ketiga sektor tersebut yakni perbankan, batu bara, dan perkebunan kelapa sawit yang dinilai memiliki prospek bisnis kuat.
Menurut Lo Kheng Hong, sektor perbankan menjadi pilihan utama karena memiliki kemampuan menghasilkan laba bersih dalam jumlah besar. Bahkan, terdapat tiga bank besar di Indonesia yang mampu membukukan laba bersih hingga Rp60 triliun.
"Menurut saya, sektor usaha yang paling menarik pada saat ini adalah perbankan. Perbankan, paling menarik," kata Lo Kheng Hong dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Dia menjelaskan, kemampuan perbankan menghasilkan laba bersih hingga Rp60 triliun menjadi keunggulan yang sulit ditandingi oleh sektor usaha lainnya di BEI.
"Kenapa paling menarik? Karena ada tiga bank, Big Bank labanya Rp60 triliun, laba bersih Rp60 triliun. Coba kita periksa bidang usaha yang lain, apa pun kita periksa, enggak ada perusahaan yang labanya Rp60 triliun," kata dia.
Selain perbankan, Lo Kheng Hong menilai sektor batu bara masih memiliki daya tarik investasi. Menurut dia, komoditas tersebut memiliki pasar yang luas karena menjadi salah satu sumber energi yang paling banyak digunakan di dunia.
Dia menyoroti kebutuhan batu bara dari negara berpenduduk besar seperti China dan India. Kedua negara tersebut masih membutuhkan batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi dan pembangkit listrik.
"Karena batu bara itu dibeli oleh China, India yang penduduknya 2 miliar, dan di seluruh dunia karena batu bara adalah sumber energi yang termurah, dan paling banyak dipakai," kata dia.
Lo Kheng Hong menilai penggunaan energi alternatif seperti angin, panas bumi, dan tenaga surya masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi kapasitas dan kebutuhan lahan.
Dia mencontohkan pembangkit listrik tenaga surya yang membutuhkan lahan luas untuk menghasilkan kapasitas listrik besar. Selain itu, biaya penyimpanan energi menggunakan baterai juga dinilai masih mahal.
"Kalau tenaga surya itu 1 megawatt butuh bentangan 1 hektar. Jadi kalau mau listrik 1.000 megawatt, kan harus bentangannya 1.000 1.000 hektar seperti itu. Kemudian, akinya juga mahal," ujarnya.
Sektor ketiga yang menjadi pilihannya adalah perkebunan kelapa sawit. Lo Kheng Hong menyebut kelapa sawit sebagai miracle crop atau tanaman ajaib karena hanya dapat tumbuh optimal di wilayah tropis seperti Indonesia dan Malaysia.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi keunggulan bagi kedua negara dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia. Terlebih, negara dengan populasi besar seperti China dan India memiliki kebutuhan minyak goreng yang tinggi.
Dia menambahkan, potensi industri kelapa sawit tidak hanya berasal dari kebutuhan minyak goreng, tetapi juga beragam produk turunannya yang digunakan dalam berbagai industri, termasuk kosmetik
"Di China ada penduduk 2 miliar, di India ada 2 miliar, mereka butuh minyak goreng dari Indonesia dan Malaysia. Dan bukan hanya untuk minyak goreng, tapi turunannya banyak sekali untuk kosmetik dan lain-lain," kata Lo Kheng Hong.
(Dhera Arizona)