Lo Kheng Hong menilai penggunaan energi alternatif seperti angin, panas bumi, dan tenaga surya masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi kapasitas dan kebutuhan lahan.
Dia mencontohkan pembangkit listrik tenaga surya yang membutuhkan lahan luas untuk menghasilkan kapasitas listrik besar. Selain itu, biaya penyimpanan energi menggunakan baterai juga dinilai masih mahal.
"Kalau tenaga surya itu 1 megawatt butuh bentangan 1 hektar. Jadi kalau mau listrik 1.000 megawatt, kan harus bentangannya 1.000 1.000 hektar seperti itu. Kemudian, akinya juga mahal," ujarnya.
Sektor ketiga yang menjadi pilihannya adalah perkebunan kelapa sawit. Lo Kheng Hong menyebut kelapa sawit sebagai miracle crop atau tanaman ajaib karena hanya dapat tumbuh optimal di wilayah tropis seperti Indonesia dan Malaysia.