IDXChannel - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatatkan pertumbuhan 105 persen pada laba kotor dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year), serta perbaikan 72 persen pada rugi bersih.
Perseroan juga mencatatkan pertumbuhan 39 persen year-on-year pada laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi yang telah disesuaikan (EBITDA yang disesuaikan).
Peningkatan profitabilitas tersebut membuktikan transformasi strategis Perseroan telah menghasilkan pendapatan dengan kualitas yang lebih tinggi sebagaimana yang direncanakan, di mana tiga bisnis infrastruktur berkelanjutan Perseroan berkontribusi kepada sebagian besar dari pendapatan dan EBITDA yang disesuaikan Perseroan.
Direktur dan Chief Financial Officer TBS, Juli Oktarina menuturkan, pada sembilan bulan pertama tahun 2026, TBS terus membuktikan bahwa transformasi yang sedang dijalankannya menghasilkan pendapatan yang berkualitas.
"Meskipun terdapat berbagai tantangan, kami bangga telah dapat mencatatkan peningkatan pada laba kotor serta EBITDA yang disesuaikan serta penyusutan rugi bersih, yang menunjukkan kami mulai menuai imbal hasil finansial dari transisi yang sedang berjalan. Kami tetap berkomitmen untuk melanjutkan transformasi kami seiring terus memperbesar bisnis infrastruktur berkelanjutan kami di Indonesia dan kawasan Asia, sementara pada saat yang sama, tetap mengelola bisnis legacy kami secara bertanggung jawab," katanya Jumat (30/10/2026).
Perseroan juga mencatatkan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar USD20,3 juta, berbalik dari arus kas negatif pada tahun sebelumnya.
Di sisi lain, TOBA mencatatkan pendapatan konsolidasian selama sembilan bulan 2026 sebesar USD257,3 juta, lebih rendah 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dikarenakan penurunan pendapatan dari bisnis legacy Perseroan.
Walau demikian, laba kotor tumbuh 105 persen year-on-year, mencapai USD45,2 juta. Margin laba kotor tumbuh lebih dari dua kali lipat pada 18 persen, dibandingkan dengan 8 persen pada tahun sebelumnya.
Terkait dengan profitabilitas, TBS mencatatkan rugi bersih konsolidasian sebesar USD35,4 juta pada sembilan bulan 2026, menyusut 72 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar USD127,9 juta.
"Perbaikan profitabilitas ini disebabkan Perseroan tidak lagi mencatatkan rugi dari divestasi bisnis pembangkit listrik tenaga batu bara yang merupakan beban sewaktu, tidak berulang, dan non-kas, yang dibukukan pada tahun 2025," tuturnya.
Rugi bersih pada periode ini mencakup beban yang terkait dengan akuisisi yang dilakukan Perseroan terhadap Cora Environment Pte. Ltd. (Cora), di mana sebagian besarnya terdiri dari beban terkait depresiasi dan amortisasi yang merupakan beban non-kas.
Menurutnya, rugi bersih tersebut juga termasuk beban sewaktu terkait refinancing terhadap pinjaman senior dari entitas-entitas bisnis pengelolaan limbah Perseroan, yang dilakukan untuk menurunkan biaya modal serta meningkatkan struktur permodalan Perseroan.
Rugi bersih yang dicatatkan pada saat ini sejalan dengan ekspektasi manajemen Perseroan sebagai bagian dari transisi yang sedang berlangsung dari bisnis legacy menuju bisnis infrastruktur berkelanjutannya.
TBS juga mencatatkan EBITDA konsolidasian yang disesuaikan sebesar USD44,4 juta pada sembilan bulan 2026, tumbuh 39 persen year-on-year. EBITDA yang disesuaikan ini mengecualikan beban pendanaan akuisisi bisnis dan beban-beban terkait depresiasi dan amortisasi. Margin EBITDA yang disesuaikan pada periode ini adalah sebesar 17 persen, tumbuh enam poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Bisnis infrastruktur berkelanjutan TBS tetap menjadi kontributor utama bagi pendapatan dan profitabilitas TBS secara keseluruhan. Bisnis pengelolaan limbah dan kendaraan listrik TBS secara kolektif berkontribusi 66 persen kepada pendapatan konsolidasian Perseroan dan 71 persen pada EBITDA yang disesuaikan.
Hasil ini terus membuktikan transisi TBS dari bisnis legacy-nya menghasilkan bauran pendapatan dan profitabilitas baru dengan struktur pendapatan yang berkualitas, stabil, dan berkelanjutan.
Terkait dengan arus kas, Perseroan mencatatkan arus kas dari aktivitas operasi sebesar USD20,3 juta, membalikkan arus kas dari aktivitas operasi yang negatif pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Perseroan mencatatkan seluruh capaian kinerja finansial ini sementara tetap mempertahankan profil utang yang sehat, dengan likuiditas yang kuat dan pilihan pendanaan yang beragam untuk mendukung beban operasional dan belanja modal, serta untuk mendanai ekspansi melalui akuisisi anorganik yang potensial. Pada tanggal 30 September 2026, saldo kas (termasuk kas yang dibatasi penggunaanya) TBS adalah sebesar USD89,6 juta.
Bisnis pengelolaan limbah TBS mencatatkan pertumbuhan yang solid pada sembilan bulan 2026. Pendapatan dari bisnis ini adalah sebesar USD157,3 juta, tumbuh 41 persen year-on-year. Pertumbuhan ini menghasilkan peningkatan pada margin laba kotor bisnis pengelolaan limbah sebesar 13,3 persen. Secara kolektif bisnis pengelolaan limbah TBS mengumpulkan 755.990 ton limbah sepanjang sembilan bulan 2026.
Secara kolektif, bisnis pengelolaan limbah TBS melayani lebih dari 470.000 rumah tangga dan pelaku usaha di Indonesia dan Singapura. Lebih lanjut, Cora terlibat dalam Skema Pengembalian Wadah Minuman (BCRS), skema yang diinisiasi oleh Pemerintah Singapura untuk mengurangi sampah wadah minuman berbahan plastik dan logam. Melalui Fasilitas Pemulihan Materialnya, Cora menghitung, memilah, dan menggabungkan wadah minuman yang dikumpulkan untuk menjadi bahan bersih dan berkualitas tinggi yang kemudian dapat didaur ulang.
Sejak menjalankan operasional untuk BCRS pada Agustus 2026, sampai dengan akhir September 2026, lebih dari 30 juta wadah minuman telah dikumpulkan dan diproses.
TBS mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Mini-Hidro Sumberjaya di Lampung dengan kapasitas 6MW, di mana TBS memiliki kepemilikan minoritas pada perusahaan operatornya, PT Adimitra Energi Hidro. Pada a
sembilan bulan 2026, pembangkit listrik ini telah menghasilkan 20,8GWh listrik dengan ketersediaan sebesar 97 persen.
TBS terus melanjutkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya terapung dengan kapasitas 46MWp (megawatt peak) di bawah PT Nusantara Tembesi Baru Energi, di mana Perseroan memegang kepemilikan minoritas, dengan target operasi komersial dimulai pada kuartal terakhir 2026.
Setelah pembangkit listrik ini beroperasi, Perseroan mengharapkan mendapatkan sumber pendapatan baru bagi bisnis infrastruktur berkelanjutannya.
Karena kepemilikan Perseroan pada bisnis energi terbarukan merupakan kepemilikan minoritas, TBS mencatatkan pendapatan dari bisnis ini sebagai bagian dari laba entitas asosiasi dan ventura bersama. Pada 9M2026, TBS menerima USD0,3 juta sebagai bagian dari laba entitas asosiasi dan ventura bersama, tumbuh 77 persen year-on-year.
Melalui Electrum, anak perusahaan ventura bersama TBS dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo), bisnis kendaraan listrik Perseroan memperlihatkan pertumbuhan berkelanjutan, dengan lebih banyak motor yang beroperasi dan stasiun penukaran baterai (BSS) yang semakin tersedia luas.
Per 30 September 2026, lebih dari 14.000 sepeda motor listrik telah beroperasi di jalan, 115 persen lebih tinggi dibandingkan per 30 September 2025. Pada sembilan bulan 2026, pengguna Electrum telah menjalani 244 juta kilometer.
Untuk mendukung penggunaan yang lebih baik, jumlah BSS yang tersedia tumbuh 85 persen year-on-year, dengan 701 BSS aktif Electrum di area operasionalnya. Pengguna Electrum secara keseluruhan mengganti baterai lebih dari 1,8 juta kali rata-rata setiap bulannya.
Sebagai hasilnya, Electrum terus mencatatkan peningkatan kinerja finansial. Pada sembilan bulan 2026, bisnis kendaraan listrik TBS mencatatkan pendapatan sebesar US 1,2 juta pada periode yang sama, membalikkan rugi kotor sebesar USD0,7 juta pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Electrum menawarkan tiga model sepeda motor listrik, yaitu Electrum H1, H3, dan H5. Dirancang secara khusus dengan menyesuaikan pada kondisi dan perilaku pengguna di Indonesia untuk mendukung penggunaan mobilitas dan produktif, model-model ini tetap ditawarkan dengan skema sewa harian serta skema sewa-untuk-milik (rent-to-own), dengan jumlah besar pengguna berasal dari pengemudi ride-hailing dan kurir logistik.
Dalam transformasinya saat ini, TBS terus mengelola bisnis legacy-nya secara bertanggung jawab. Bisnis pertambangan dan perdagangan batu bara masih menjadi kontributor bagi portofolio Perseroan di tengah transisi ini. Perseroan mengelola aset dan seluruh beban terkait dengan disiplin tinggi sepanjang periode transisi.
Pada sembilan bulan 2026, bisnis pertambangan batu bara mencatatkan pendapatan sebesar USD61,8 juta, lebih rendah 10 persen year-on-year. Sebagian dari dampak penurunan ini diimbangi dengan harga penjualan rata-rata yang lebih tinggi dikarenakan fluktuasi harga komoditas global. Segmen ini juga mencatatkan laba kotor sebesar USD21,6 juta dan EBITDA sebesar USD20,1 juta pada 9M2026.
Bisnis perdagangan batu bara mencatatkan pendapatan sebesar US 0,6 juta serta rugi EBITDA sebesar USD0,5 juta pada periode yang sama.
Di TBS, keberlanjutan adalah faktor yang penting dalam pengambilan keputusan bisnis. Berpedoman pada kerangka TBS2030, Perseroan menjalankan transisi adil dan bertanggung jawab dari bisnis legacy-nya menuju bisnis dengan dampak karbon yang lebih rendah, serta pada saat yang bersama, memastikan dampak positif bagi lingkungan, turut memberdayakan masyarakat, dan menjunjung tinggi standar tata kelola yang baik.
(kunthi fahmar sandy)