Kemudian, kekhawatiran inflasi semakin meningkat menjelang pengumuman data inflasi Oktober pekan depan. Hal ini menjadi perhatian pelaku pasar karena inflasi yang tinggi dapat memengaruhi keputusan Bank Indonesia dalam menentukan suku bunga.
Secara sederhana, jika harga barang dan kebutuhan pokok terus naik, daya beli masyarakat akan melemah. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah dapat membuat biaya produksi serta harga barang semakin mahal.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.140-Rp18.190 per dolar AS. Sedangkan dalam perdagangan pekan depan diprediksi dalam rentang Rp18.000-Rp18.320 per USD.
(NIA DEVIYANA)